java-kankoo
 
  Home
  Kecak Dance
  History Candi in Indonesia
  Japanese Tutorial for beginner
  Jogja Tourism Info
  Homeschooling
  General articles
  Useful Information
  Blog-Mendaftarkan Web ke Search Engine secara GRATIS
  Recomended tourist object in Indonesia
  Trans Jogja
  Bangunan Adat Rumah Jawa
  Mengenal sistim kalender yang berbeda
  Mengapa harus Sunat ?
  YOGYAKARTA
  Serat Kolotidho
  Istilah-istilah penting IT
  History of Borobudur
  JOGJAkARTA MONTHLY EVENTS
  Filsafat Jawa, ajaran leluhur yang hampir terlupakan
  JAPANESE GOVERNMENT (MONBUKAGAKUSHO:MEXT) SCHOLARSHIP FOR 2009
  Tourist Destination Places in Central Java
  Michael Jackson's Best Songs
  Japanese Stories and Articles for Education
  Mengenal sekilas Propinsi Jawa Tengah
  Live TV Online : World TV Channel, RCTI, TRANS TV, SCTV, METRO TV, Mivo TV
  Indonesia at a Glance
  The Legend of Roro Jonggrang
  Komodo Island
  Legenda Pura Tanah Lot
  Game Membuat Anak Suka Menolong
  Usefull Video and Movies
  Watch free TV Stations from around the world
  World News
  Comedy n Hiburan funny - film - drama - music
  Sejarah Kerajaan Majapahit
  Hipnotis Sederhana Untuk Anak Balita Atau Anak Penderita Autis
  Keseimbangan Hidup
  Lirik - I'm Yours - Jason Mraz
  Kamus Bahasa Jepang online - Online Japanese dictionary
  Kelenteng Sam Poo Kong
Sejarah Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit

adalah Kerajaan besar yang ada pada tahun 1293 - 1500 M. Majapahit merupakan sebuah negara agraris yang mengandalkan kemampuan berdagang dan perluasan wilayah sebagai penyangga ekonominya. Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk, dengan mapatihnya yang terkenal Gajah Mada. Pada masa jayanya, daerah taklukan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi serta sebagian Negara Filipina. Ibu kota Majapahit mengalami perpindahan lokasi beberapa kali, tetapi yang paling terkenal adalah Trowulan.

Latar belakang sejarah

Latar belakang kesejarahan Majapahit tidak akan lepas dari kerajaan sebelumnya yaitu Kediri dan Singgasari, bahkan Mataram pun mewarnai kesejarahan Majapahit. Setelah Raja Śri Kĕrtānegara gugur, kerajaan Singhasāri berada di bawah kekuasaan raja Jayakatwang dari Kadiri. Salah satu keturunan penguasa Singhasāri, yaitu Raden Wijaya, kemudian berusaha merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya. Ia adalah keturunan Ken Angrok, raja Singhāsāri pertama dan anak dari Dyah Lěmbu Tal. Ia juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya.

Menurut sumber sejarah, Raden Wijaya sebenarnya adalah mantu Kĕrtanāgara yang masih terhitung keponakan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia mengawini dua anak sang raja sekaligus, tetapi kitab Nāgarakertāgama menyebutkan bukannya dua melainkan keempat anak perempuan Kěrtanāgara dinikahinya semua. Pada waktu Jayakatwang menyerang Singhasāri, Raden Wijaya diperintahkan untuk mempertahankan ibukota di arah utara. Kekalahan yang diderita Singhasāri menyebabkan Raden Wijaya mencari perlindungan ke sebuah desa bernama Kudadu, lelah dikejar-kejar musuh dengan sisa pasukan tinggal duabelas orang. Berkat pertolongan Kepala Desa Kudadu, rombongan Raden Wijaya dapat menyeberang laut ke Madura dan di sana memperoleh perlindungan dari Aryya Wiraraja, seorang bupati di pulau ini. Berkat bantuan Aryya Wiraraja, Raden Wijaya kemudian dapat kembali ke Jawa dan diterima oleh raja Jayakatwang. Tidak lama kemudian ia diberi sebuah daerah di hutan Těrik untuk dibuka menjadi desa, dengan dalih untuk mengantisipasi serangan musuh dari arah utara sungai Brantas. Berkat bantuan Aryya Wiraraja ia kemudian mendirikan desa baru yang diberi nama Wilwatikta/Majapahit. Di desa inilah Raden Wijaya kemudian memimpin dan menghimpun kekuatan, khususnya rakyat yang loyal terhadap almarhum Kertanegara yang berasal dari daerah Daha dan Tumapel. Aryya Wiraraja sendiri menyiapkan pasukannya di Madura untuk membantu Raden Wijaya bila saatnya diperlukan.

Tidak terduga sebelumnya bahwa pada tahun 1293 Jawa kedatangan pasukan dari Cina yang diutus oleh Kubhilai Khan. Keinginan untuk memperluas pengaruh bangsa Mongol setelah menjajah Cina adalah menundukkan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur dengan menggunakan kekuatan militer dan politik.Caranya dengan meminta para penguasa lokal untuk mengakui Kaisar Mongol sebagai penguasa tunggal dan mengharuskan raja-raja lokal tersebut untuk mengirim upeti (tribute) kepada kaisar Cina. Salah satunya adalah ke Jawa yang kala itu diperintah oleh Raja Kartanagara dari kerajaan Singhasari.

Untuk maksud tersebut, Kublai Khan mengirim seorang utusan bernama Meng Chi ke Jawa meminta raja Kartanagara untuk tunduk di bawah kekuasaan Cina. Merasa tersinggung, utusan itu dicederai wajahnya oleh Kartanagara dan meingirimnya pulang ke Cina dengan pesan tegas bahwa ia tidak akan tunduk di bawah kekuasaan raja Mongol. Perlakuan Kartanegara terhadap Meng Chi dianggap sebagai penghinaan kepada Kublai Khan. Sebagai seorang kaisar yang sangat berkuasa di daratan Asia saat itu, ia merasa terhina dan berniat untuk menghancurkan Jawa yang menurutnya telah mempermalukan bangsa Mongol.

Peristiwa penyerbuan ke Jawa ini dituliskan dalam beberapa sumber di Cina dan merupakan sejarah yang sangat menarik tentang kehancuran kerajaan Singhasari dan munculnya kerajaan Majapahit, seperti yang dapat kita baca dalam buku nomor 162 dari masa pemerintahan Dinasti Yuan yang terjemahannya dapat dibaca dalam buku W.P. Groeneveldt berjudul Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources (1963: 20-31).

Disebutkan bahwa utusan yang dikirim ke Jawa terdiri dari tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, dan Kau Hsing. Hanya Kau Hsing yang berdarah Cina, sedangkan dua lainnya adalah orang Mongol. Mereka diberangkatkan dari Fukien membawa 20.000 pasukan dan seribu kapal. Kublai Khan membekali pasukan ini untuk pelayaran selama satu tahun serta biaya sebesar 40.000 batangan perak. Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang. Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab untuk menyiapkan perbekalan dan kapal. Pasukan besar ini berangkat dari pelabuhan Chuan-chou dan tiba di Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293.

Di sini mereka mempersiapkan penyerangan ke Jawa selama lebih kurang satu bulan dan kemudian memasuki Jawa melalui sungai Brantas langsung menuju ke Daha.. Perjalanan menuju Pulau Belitung yang memakan waktu beberapa minggu melemahkan bala tentara Mongol karena harus melewati laut dengan ombak yang cukup besar. Banyak prajurit yang sakit karena tidak terbiasa melakukan pelayaran. Di Belitung mereka menebang pohon dan membuat perahu (boats) berukuran lebih kecil untuk masuk ke sungai-sungai di Jawa yang sempit sambil memperbaiki kapal-kapal mereka yang telah berlayar mengarungi laut cukup jauh.

Pada bulan kedua tahun itu Ike Mese bersama pejabat yang menangani wilayah Jawa dan 500 orang menggunakan 10 kapal berangkat menuju ke Jawa untuk membuka jalan bagi bala tentara Mongol yang dipimpin oleh Shih Pi. Ketika berada di Tuban mereka mendengar bahwa raja Kartanagara telah tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang kemudian mengangkat dirinya sebagai raja Singhasari.

Oleh karena perintah Kublai Khan adalah menundukkan Jawa dan memaksa raja Singhasari, siapa pun orangnya, untuk mengakui kekuasaan bangsa Mongol, maka rencana menjatuhkan Jawa tetap dilaksanakan. Sebelum menyusul ke Tuban orang-orang Mongol kembali berhenti di Pulau Karimunjawa untuk bersiap-siap memasuki wilayah Singhasari. Setelah berkumpul kembali di Tuban dengan bala tentara Mongol.

Diputuskan bahwa Ike Mese akan membawa setengah dari pasukan kira-kira sebanyak 10.000 orang berjalan kaki menuju Singhasari, selebihnya tetap di kapal dan melakukan perjalanan menggunakan sungai sebagai jalan masuk ke tempat yang sama. Sebagai seorang pelaut yang berpengalaman, Ike Mese, yang sebenarnya adalah suku Uigur dari pedalaman Cina bukannya bangsa Mongol, mendahului untuk membina kerja sama dengan penguasa-penguasa lokal yang tidak setia kepada Jayakatwang. Kedatangan ini diketahui oleh Raden Wijaya, ia meminta izin untuk bergabung dengan pasukan Cina yang diterima dengan sukacita.

Menurut cerita Pararaton, kedatangan bala tentara Mongol (disebut Tartar) adalah merupakan upaya Bupati Madura, Aria Wiraraja, yang mengundangnya ke Jawa untuk menjatuhkan Daha. Aria Wiraraja berjanji kepada raja Mongol bahwa ia akan mempersembahkan seorang puteri cantik sebagai tanda persahabatan apabila Daha dapat ditundukkan. Surat kepada raja Mongol disampaikan melalui jasa pedagang Cina yang kapalnya tengah merapat di Jawa (Pitono, 1965: 44).

Armada kapal kerajaan Mongol selebihnya dipimpin langsung oleh Shih Pi memasuki Jawa dari arah sungai Sedayu dan Kali Mas. Setelah mendarat di Jawa, ia menugaskan Ike Mese dan Kau Hsing untuk memimpin pasukan darat. Beberapa panglima “pasukan 10.000-an” turut mendampingi mereka. Sebelumnya, tiga orang pejabat tinggi diberangkatkan menggunakan ‘kapal cepat’ menuju ke Majapahit setelah mendengar bahwa pasukan Raden Wijaya ingin bergabung tetapi tidak bisa meninggalkan pasukannya. Melihat keuntungan memperoleh bantuan dari dalam, pasukan Majapahit ini kemudian dijadikan bagian dari bala tentara kerajaan bangsa Mongol.

Untuk mempermudah gerakan bala tentara asing ini, Raden Wijaya memberi kebebasan untuk menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kekuasaannya dan bahkan memberikan panduan untuk mencapai Daha, ibukota Singhasari. Ia juga memberikan peta wilayah Singhsari kepada Shih Pi yang sangat bermanfaat dalam menyusun strategi perang menghancurkan Jayakatwang.

Selain Majapahit, beberapa kerajaan kecil (mungkin setingkat provinsi di masa sekarang) turut bergabung dengan orang-orang Mongol sehingga menambah besar kekuatan militer sudah sangat kuat ketika berangkat dari Cina. Persengkongkolan ini terwujud sebagai ungkapan rasa tidak suka mereka terhadap raja Jayakatwang yang telah membunuh Kartanegara melalui sebuah kudeta yang keji. Pada bulan ketiga tahun 1293, setelah seluruh pasukan berkumpul di mulut sungai Kali Mas, penyerbuan ke kerajaan Singhasari mulai dilancarkan. Kekuatan kerajaan Singhasari di sungai tersebut dapat dilumpuhkan, lebih dari 100 kapal berdekorasi kepala raksasa dapat disita karena seluruh prajurit dan pejabat yang mempertahankannya melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan induknya.

Peperangan besar baru terjadi pada hari ke-15, bila dihitung semenjak pasukan Mongol mendarat dan membangun kekuatan di muara Kali Mas, di mana bala tentara gabungan Mongol dengan Raden wijaya berhasil mengalahkan pasukan Singhasari. Kekalahan ini menyebabkan sisa pasukan kembali melarikan diri untuk berkumpul di Daha, ibukota Singhasari. Pasukan Ike Mese, Kau Hsing, dan Raden wijaya melakukan pengejaran dan berhasil memasuki Daha beberapa hari kemudian. Pada hari ke-19 terjadi peperangan yang sangat menentukan bagi kerajaan Singhasari. Dilindungi oleh lebih dari 10.000 pasukan raja Jayakatwang berusaha memenangkan pertempuran mulai dari pagi hingga siang hari. Dalam peperangan ini dikatakan bahwa pasukan Mongol menggunakan meriam yang pada zaman itu masih tergolong langka di dunia.

Terjadi tiga kali pertempuran besar antara kedua kekuatan yang berseteru ini di keempat arah kota dan dimenangkan oleh pihak para penyerbu. Pasukan Singhasri terpecah dua, sebagian menuju sungai dan tenggelam di sana karena dihadang oleh orang-orang Mongol, sedang sebagian lagi sebanyak lebih kurang 5.000 dalam keadaan panik akhirnya terbunuh (slain = bantai) setelah bertempur dengan tentara gabungan Mongol-Majapahit. Salah seorang anak Jayakatwang yang melarikan diri ke perbukitan di sekitar ibukota dapat ditangkap dan ditawan oleh pasukan Kau Hsing berkekuatan seribu orang. Jayakatwang menyadari kekalahannya, ia mundur dan bertahan di dalam kota yang dikelilingi benteng. Pada sore harinya ia memutuskan keluar dan menyerah karena tidak melihat kemungkinan untuk mampu bertahan.

Serbuan ke Daha dilakukan dari darat maupun sungai yang berjalan sengit sepanjang pagi hingga siang hari. Gabungan pasukan Cina dan Raden Wijaya berhasil membinasakan 5.000 tentara Daha. Dengan kekuatan yang tinggal setengah, Jayakatwang mundur untuk berlindung di dalam benteng. Sore hari, menyadari bahwa ia tidak mungkin mempertahankan lagi Daha, Jayakatwang keluar dari benteng dan menyerahkan diri untuk kemudian ditawan oleh pasukan Cina. Kemenangan pasukan gabungan ini menyenangkan bangsa Mongol. Seluruh anggota keluarga raja dan pejabat tinggi Singhasari berikut anak-anak mereka ditahan oleh bangsa Mongol. Sejarah Cina mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Raden Wijaya memberontak dan membunuh 200 orang prajurit Mongol yang mengawalnya ke Majapahit untuk menyiapkan persembahakn kepada raja Kublai Khan. Adalah Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang sempat membantu orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, melakukan penumpasan itu (Pitono, 1965 46).

Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Khubilai Khan. Namun dengan menggunakan tipu muslihat kedua perwira dan para pengawalnya berhasil dibinasakan oleh Raden Wijaya. .Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memimpin pasukan Majapahit menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban. Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya itu harus melarikan diri sampai sejauh 300 li ( 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara. Dari sini ia berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

Kekekalahan bala tentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kublai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporakporandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di atasnya.

Akhirnya cita-cita Raden Wijaya untuk menjatuhkan Daha dan membalas sakit hatinya kepada Jayakatwang dapat diwujudkan dengan memanfaatkan tentara asing. Ia kemudian memproklamasikan berdirinya sebuah kerajaan baru yang dinamakan wilwatikta/Majapahit. Pada tahun 1215 Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Śri Kĕrtarājasa Jayawardhana. Keempat anak Kertanegara dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari, Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā, Śri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnyāparamitā, dan Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri.

Wilayah

Wilayah kekuasaan

Majapahit dalam abad 14 merupakan kekuasaan besar di asia tenggara, menggantikan Mataram dan Sriwijaya, dua buah Negara yang berbeda dasarnya, yang pertama merupakan Negara pertanian, yang kedua adalah Negara maritim, kedua ciri itu dimiliki oleh majapahit. Visi dan keinginan kuat untuk membangun kerajaan yang mengedepankan kekuatan maritim dan agrarian telah menjadi tekad Raden Wijaya, anak menantu Kertanegara. Visi itu diwujudkan dengan memilih lokasi ibukota Kerajaan Majapahit di daerah Tarik di hilir sungai Brantas dengan maksud memudahkan pengawasan perdagangan pesisir dan sekaligus dapat mengendalikan produksi pertanian di pedalaman, selain itu perluasan cakrawala mandala ke luar Pulau Jawa, yang meliputi daerah seluruh dwipantara.

Puncak kejayaan bahari tercapai pada abad ke-14 ketika Majapahit menguasai seluruh Nusantara bahkan pengaruhnya meluas sampai ke negara-negara asing tetangganya. Kerajaan Majapahit di bawah Raden Wijaya, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada telah berkembang pesat menjadi kerajaan besar yang mampu memberikan jaminan bagi keamanan perdagangan di wilayah Nusantara.

Penyatuan Nusantara oleh Majapahit melalui ekspedisi- ekspedisi bahari dimulai tak lama setelah Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa yang terkenal itu pada tahun 1334 : tan amukti palapa, "Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa. Sira Gajah Mada lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Doran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang,Tumasik, samana ingsun amukti Palapa".

Ekspansi bahari ini tercatat dalam Negara Kertagama anggitan Mpu Prapanca pada tahun 1365. Buku ini membagi wilayah kekuasaan Majapahit dalam empat kelompok wilayah :

(1) wilayah2 Melayu dan Sumatera : Jambi, Palembang, Samudra dan Lamori (Aceh),

(2) wilayah2 di Tanjung Negara (Kalimantan) dan Tringgano (Trengganu),

(3) wilayah2 di sekitar Tumasik (Singapura),

(4) wilayah2 di sebelah timur Pulau Jawa (Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku sampai Irian). Nusa Tenggara Yaitu Bali, Bedulu, Lawagajah (Lilowang, Negara), Gurun (Nusa Penida), Taliwung (Sumbawa), Sang Hyang Api (Gunung Api, Sangeang), Bima, Seram, Hutan (sumbawa), Kendali (Buru), Gurun (Gorong), Lombok Mira (Lombok Timur), Sumba dan Timor. Sulawesi yaitu Batayan (Bontain), Luwuk (Luwu), Udamakatraya (Talaud), Makasar, Butun (Buton), Banggawai (Banggai), Kunir (P. Kunyit), Salaya (Saleier), dan solot (Solor). Maluku yaitu Muar (Kei), wadan (Banda), Ambon, dan Maluku (Ternate). Irian yaitu Onin (Irian Utara), dan Seran (Irian Selatan).

Dengan demikian, orang akan melihat bahwa luas wilayah Majapahit kurang lebih sama dengan wilayah Hindia Belanda dikurangi dengan Jawa Barat karena dalam daftar tak disebutkan nama Pasundan" Bahkan juga terungkap dalam catatan sejarah bahwa pengaruh Kerajaan Majapahit telah sampai kepada beberapa wilayah negara asing : Siam, Ayuthia, Lagor, Campa (Kamboja), Anam, India, Filipina, China.

Keberhasilan Kerajaan Majapahit mewujudkan visi Sumpah Palapa, selain dibakar semangat kebangsaan patriotik di bawah komando Mahapatih Gajah Mada, juga banyak disumbang oleh keberhasilan Majapahit dalam mengembangkan teknologi bahari berupa kapal bercadik yang menjadi tumpuan utama kekuatan armada lautnya. Gambaran model konstruksi kapal bercadik sejak zaman Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit telah terpahat rapih pada relief Candi Borobudur seperti diterangkan di atas. Armada laut Majapahit ini didukung oleh persenjataan andalan berupa meriam hasil rampasan dari bala tentara Kubilai Khan ketika menyerang Kediri (atas tipudaya Raden Wijaya) dan roket (sekarang peluru kendali) yang ditiru Majapahit dari peralatan perang Kubilai Khan itu.

Wilayah kekuasaaan langsung

Semua kebesaran itu diawali di sebuah wilayah di Jawa Timur, bernama Trowulan, Mojokerto. Di sini dijumpai peninggalan-peninggalan budaya Majapahit yang eksotis yang bersifat monumental maupun artefak. Wilayah Majapahit yang terletak di lembah sungai berantas disebelah tenggara kota Majakerta, di daerah Tarik, sebuah kota kecil dipersimpangan kali Mas dan kali Porong. Diperkirakan pada akhir tahun 1292 tempat itu masih merupakan hutan belantara, penuh dengan pohon Maja seperti kebanyakan dengan daerah lainnya di sungai Berantas. Dengan bantuan adipati wiraraja dari sumenep yang mengirim orang dari Madura, berhasil ditebang untuk dijaadikan lading dan dinamakan Majapahit. Pada permulaan tahun 1293 ketika tentara tartar dibawah pimpinan Shih-pi, KauHsing dan Ike Mesa datang ke sana kepaladesa Majapahit bernama Tuhan pijaya, yakni Nararya Sanggramawijaya.

Setelah Daha runtuh pada bulan April tahun 1293 oleh serbuan tentara tartar dan bantuan Sanggramawijaya, desa Majapahit dijadikan pusat pemerintahan kerajaan baru yang disebut kerajaan Majapahit. Pada waktu itu wilayah Majapahit meliputi kerajaan lama Singasari, hanya sebagian besar dari jawa timur. Sepeninggal Rangga Lawe pada thun 1295, atas bantuan Wiraraja dengan janji Sanggramawijaya, kerajaan Majapahit dibelah menjadi dua. Bagian timur, yang meliputi daerah Lumajang, diserahkan kepada Wiraraja. Pada akhir abad tigabelas kerajaan Majapahit meliputi Kediri, Singasari, Janggala (Surabaya), dan Pulau Madura.

Penumpasan Nambi pada tahun 1316 daerah Lumajang bergabung lagi dengan Majapahit yang tercatat dalam Lamongan. Maka sejak tahun 1331 wilayah Majapahit diperluas berkat penundukan Sadeng, ditepi sungai Badadung dan Keta di pantai Utara dekat panarukan yang diberitakan dalam Nagarakertagama pupuh ALVIII/2, XLIX/3 dan dalam Pararaton. Pada waktu itu wilayah kerajaan Majapahit meliputi seluruh Jawa Timur dan Pulau Madura.

Wilayah otonomi luas

Wilayah kerajaan Majapahit, khususnya di Jawa dibagi menjadi sejumlah propinsi yang membawahi sejumlah penguasa lokal: bupati, akuwu, dan demang. Para penguasa lokal ini menerima kekuasaan dari raja. Namun ia harus melakukan kewajiban seperti menyediakan tenaga untuk keperluan raja dan kepentingan militer jika diperlukan, membayar pajak, dan menghadap ke ibukota atau ke istana untuk menyatakan kesetiaan. Dalam perkembangan pemerintahan selanjutnya, setelah wilayah Majapahit semakin luas, raja dijadikan sebagai pusat kosmis. Untuk itu diangkatlah keluarga raja menjadi adhipati atau gubernur pada nagara-nagara atau propinsi sebagai penghubung antara raja dengan masyarakat desa. Dalam konteks demikian Raja Hayam Wuruk mengukuhkan undang-undang pemerintahan dan ditetapkannya hari jadi pemerintahan nagara setingkat provinsi di Jawa Timur dalam struktur pemerintahan kerajaan Majapahit pada tanggal 27 Maret 1365 M.

Dari informasi yang ditemukan secara vertikal struktur pemerintahan Majapahit dari atas ke bawah adalah sebagai berikut: bhumi (pusat / aharaja), rajya (nagara) provinsi/raja/natha/ bhatara/wadhana/adhipati), watek/wiyasa (kabupaten/tumenggung), lurah/kuwu (kademangan/ demang), thani/wanua (desa, petinggi), kabuyutan (dusun/dukuh/lingkungan/rama). Wilayah propinsi pada Kerajaan Majapahit yang semula pada abad XIV berdasarkan pemberitaan Negarakrtagama berjumlah dua belas, yaitu:

1. Kahuripan (Janggala) Tribhuwanatunggadewi Ibu Raja

2. Daha (Kediri) Rajadewi Maharajasa Bibi/Mertua

3. Singhasari Kertawardhana Ayah Raja

4. Wengker (Ponorogo) Wijayarajasa Paman/Mertua

5. Matahun (Bojonegoro) Rajasawardhana SuamiBhre, Lasem, sepupu Hayam Wuruk

6. Wirabhumi (Blambanagan) Nagarawardhani Kemenakan Hayam Wuruk

7. Paguhan Sangawardhana IparHayam Wuruk

8. Kabalan Kusumawardhani Anak (prp)

9. Pawanuan Surawardhani

10. Lasem (Jawa Tengah) Rajasaduhita Indudewi Sepupu Hayam wuruk

11. Pajang (dekat Solo) Rajasaduhitaiswari Saudara Prp. Hayam wuruk

12. Mataram (Yogyakarta) Wikramawardhana Kemenakan/Prp. Hayam wuruk

(Sumber: Th. G. Pigeud, Java in the 14th Century A Study in Cultural History I Javanese Texts in Transcription, The Hague: M. Nijhoff, 1960).

Berdasarkan prasasti Suradakan, 22 Nopember 1447 provinsi di Majapahit berkembang menjadi empat belas, yang masing-masing satuan daerah itu dipimpin oleh seorang bangsawan keluarga raja sebagai raja muda yang bergelar Bhatara atau gubernur. Keempat belas daerah dan natha tersebut adalah:

1.Kahuripan (Janggala) Rajasawardhana Dyah Wijayakumara

2.Daha (Kediri) Jayawardhani Dyah Iswara

3.Wengker (Ponorogo) Girisawardhana Dyah Suryawikrama

4.Tumapel (Singhasari) Singawikramawardhana Dyah Suraprabawa

5.Wirabhumi (Blambanagan) Wijayaparekraman Dyah Samarawijaya

6.Wirabhumi (Blambanagan) Rajasawardhana Indudewi Dyah Pureswari

7.Jagaraga (Ngawi) Wijayaindudewi Dyah Wijayaduhita

8.Kling (Timur Kediri) Girindrawardhana Dyah Wijayakarana

9.Singapura Rajasawardhanadewi Dyah Sripura

10.Kalinghapura Kamalawarnadewi Dyah Sudayitra

11.Kembang Jenar Rajanandeswari Dyah Sudarmini

12.Kabalan Mahamahisi Dyah Sawitri

13.Pajang (dekat Solo) Dyah Sura Iswari

14.Tanjungpura Mangalawardhani Dyah Suragharini

(Sumber: H.M. Yamin, Tatanegara Majapahit Sapta-Parwa II, Jakarta: Prajnaparamita, 1960)

Wilayah perdagangan



Inti kerajaan majapahit terletak di daerah tarik. Kota tesebut menurut pengamatan beberapa ahli purbakala berada di lembah sungai Brantas yang subur, kira-kira di sebelah timur kota Mojokerto sekarang. Di dekatnya terdapat pelabuhan Canggu, sedangkan di muara terdapat pelabuhan lain yakni Ujung Galuh. Kedua pelabuhan itu memegang peranan penting dalm pelayaran perdagangan waktu itu.

Melihat posisi geografisnya letak majapahit cukup strategi. Adanya lembah yang luas, bertanah vulkanis muda yang subur, ditambah aliran sungai berantas dan bengawan solo dengan nak-anak sungainya yang dapat dilayari hingga ke hulu, merupakan kondisi ideal yan memungkinkan kerajaan itu mengembangkan diri. Pada masa itu sungai berantas dan bengawan solo memiliki fungsi ganda. Sebagai sarana irigasi pertanian dan di lain pihak sebagai sarana transportasi yang menunjang ekonomi perdagangan yang menunjang kemajuan ekonomi kerajaan Mjapahit.

Mengenai sektor perdagangan perluasannya sejalan dengan bertambah luasnya jaringan jalan waktu itu. Yang jelas dari ibukota kerajaan Majapahit telah terdapat jaringan jalan kedaeah blitar, Silaharut, Polaman, Daha, Jenggala, Pajang, Lasem, Lodaya, Teto, Sideman, Lumajang, Gresik, Tuban dll.

Masyarakat pedagang dari desa-desa mengangkut dagangan dan bekal perjalanan dengan pkulan, seperti digambarkan pada relief candi Tigawangi, dan Penataran. Mereka membawa hasil bumi seperti beras. Lada kesumba kapas, kelapa, buah pinang, asam, wijen, dan buah-buahan, juga barang dagangan laian seperti ternak, unggas, unggas, dan alat-alat dapur seperti nyiru, kerucut, tempayang, dulang, periuk, dan sebaginya. Alat angkutan barang dagangan yang lebih besar adalah kuda. Malahan kelompok pedagang kelontong ada yang menjelajah hingga ke pedalaman dengan menempuh jarak yang cukup jauh. Dengan demikian terbentuklah pasar-pasar di daerah pedalaman meski dalam sekala terbatas.

Selain itu para pedagang juga memanfaatkan air sebgai sarana penghubungnya, alayt angkut air pun beragam jenisnya. Untuk penyebrangan dari tepi yang satu ke tepi yang lain cukup dengan rakit atau sampan. Dalam prasasti trowulan, disebutkan adanya 44 tempat penyebrangan di sungai bengawan solo dan 34 tempat penyebaran di sungai berantas. Sedangkan perahu di pakai untuk hilir mudik mengangkut dari pedalaman ke tempat penimbunan barang (pemugahan). Dari pemugahan dagangan dibawa ke pelabuhan di pantai dengan perahu yang lebih besar. Sedangkan di pelabuhan terdapat kapal-kapal besar yang sanggu mengurangi lautan.

Dari sekian bnyak tempat penyebrangan ada beberapa tempat yang berfungsi sebagai tempat pamugahan, misalnya Surabaya, Terung, Canggu, dan Bubat. Dalam berita cina disebutkan bahwa di jawa waktu itu terdapat empat kota pelabuhan besar yakni Tuban, Gresik, Surabaya dan Majapahit. Agaknya hubungan dagang dengan majapahit dan Cina terjalin rapat. Disamping itu terdapat juga jaringan perdagangan interinsuler (antarpulau), di Indonesia.

Kota-kota

Kakawin Nagarakretagama (khususnya pupuh VIII-XII) merupakan sumber tertulis yang penting untuk mengetahui gambaran kota Majapahit sekitar tahun 1350.

Kota pada masa itu bukanlah kota dalam arti kota modern, demikian pernyataan Pigeaud (1962), ahli sejarah bangsa Belanda, dalam kajiannya terhadap Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Ia menyimpulkan, Majapahit bukan kota yang dikelilingi tembok, melainkan sebuah kompleks permukiman besar yang meliputi sejumlah kompleks yang lebih kecil, satu sama lain dipisahkan oleh lapangan terbuka. Tanah-tanah lapang digunakan untuk kepentingan publik, seperti pasar dan tempat-tempat pertemuan.

Maclaine Pont (1924-1926), seorang arsitek Belanda, coba menghubungkan gambaran kota Majapahit yang tercatat dalam Nagarakretagama dengan peninggalan situs arkeologi di daerah Trowulan. Hasilnya adalah sebuah sketsa tata kota Majapahit, setelah dipadukan dengan bangunan-bangunan purbakala yang terdapat di Situs Trowulan. Bentang kota Majapahit digambarkan dalam bentuk jaringan jalan dan tembok keliling yang membentuk blok-blok empat persegi.

Pada tahun 1981 keberadaan kanal-kanal dan waduk-waduk di Situs Trowulan semakin pasti diketahui melalui studi foto udara yang ditunjang oleh pengamatan di lapangan dengan pendugaan geoelektrik dan geomagnetik. Hasil penelitian kerja sama Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dengan Ditlinbinjarah, UGM, ITB, dan Lapan itu diketahui bahwa Situs Trowulan berada di ujung kipas aluvial vulkanik yang sangat luas, memiliki permukaan tanah yang landai dan baik sekali bagi tata guna tanah (Karina Arifin, 1983). Waduk-waduk Baureno, Kumitir, Domas, Kraton, Kedungwulan, Temon, dan kolam-kolam buatan seperti Segaran, Balong Dowo, dan Balong Bunder, yang semuanya terdapat di Situs Trowulan, letaknya dekat dengan pangkal kipas aluvial Jatirejo.

Melalui pengamatan foto udara inframerah, ternyata di Situs Trowulan dan sekitarnya terlihat adanya jalur-jalur yang berpotongan tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan timur-barat. Jalur-jalur yang membujur timur-barat terdiri atas 8 jalur, sedangkan jalur-jalur yang melintang utara-selatan terdiri atas 6 jalur. Selain jalur-jalur yang bersilangan tegak lurus, ditemukan pula dua jalur yang agak menyerong. "Berdasarkan uji lapangan pada jalur-jalur dari foto udara, ternyata jalur-jalur tersebut adalah kanal-kanal, sebagian masih ditemukan tembok penguat tepi kanal dari susunan bata," ujar Karina Arifin.

Lebar kanal-kanal berkisar 35-45 meter. Kanal yang terpendek panjangnya 146 meter, yaitu jalur yang melintang utara-selatan yang terletak di daerah Pesantren, sedangkan kanal yang terpanjang adalah kanal yang berhulu di sebelah timur di daerah Candi Tikus dan berakhir di Kali Gunting (di Dukuh Pandean) di daerah baratnya. Kanal ini panjangnya sekitar 5 kilometer. Hal yang menarik, sebagian besar situs-situs di Trowulan dikelilingi oleh kanal-kanal yang saling berpotongan, membentuk sebuah denah segi empat yang luas, dibagi lagi oleh beberapa bidang segi empat yang lebih kecil.

Ibu Kota kerajaan

Majapahit, Wilwatikta (Trowulan)

Istana

Berita Cina yang ditulis oleh Ma-Huan sewaktu mengikuti perjalanan Laksamana Zheng-He ke Jawa memberi penjelasan mengenai keadaan masyarakat Majapahit pada abad XV. Antara lain bahwa kota Majapahit terletak di pedalaman Jawa. Istana Raja dikelilingi tembok tinggi lebih dari 3 zhang, pada salah satu sisinya terdapat “pintu gerbang yang berat” (mungkin terbuat dari logam). Tinggi atap bangunan antara 4-5 zhang, gentengnya terbuat dari papan kayu yang bercelah-celah (sirap). Raja Majapahit tinggal di istana, kadang-kadang tanpa mahkota, tetapi sering kali memakai mahkota yang terbuat dari emas dan berhias kembang emas. Raja memakai kain dan selendang tanpa alas kaki, dan kemanapun pergi selalu memakai satu atau dua bilah keris. Apabila raja keluar istana, biasanya menaiki gajah atau kereta yang ditarik lembu. Penduduk Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga. Penduduk memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan terurai, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap anak laki-laki selalu membawa keris yang terbuat dari emas, cula badak atau gading

Tata kota

Kerajaan Majapahit, selain mempunyai sebuah ibu kota sebagai pusat pemerintahan dan tempat kedudukan raja serta para pejabat kerajaan, ternyata juga sebagai pusat magis bagi seluruh kerajaan. Apabila ditinjau dari konsep kosmologi, maka wujud Ibu Kota Majapahit dianggap sebagai perwujudan jagad raya, sedangkan raja identik dengan dewa tertinggi yang bersemayam di puncak Gunung Mahameru. Keberadaan Kota Majapahit menurut konsep tersebut memiliki tiga unsur, yaitu unsur gunung (replikanya dibentuk candi), unsur sungai (replikannya dibentuk Kanal) dan unsur laut (replikanya dibentuk waduk).

Gambaran tentang Kerajaan Majapahit, khususnya tentang penataan pemukiman istana dan sekitarnya telah diuraikan dalam Kakawin Nagarakrtagama pupuh VIII-XII. Disebutkan bahwa keadaan istana dikelilingi oleh tembok yang kokoh dengan parit keliling diluarnya.

Susunan bangunan di istana meliputi tempat tinggal raja dan keluarganya, lapangan manguntur, pemukiman para pendeta dan rumah-rumah jaga pegawai kerajaan. Rumah di dalam istana indah, bagus dan kuat. Ibu Kota Kerajaan Majapahit dikelilingi oleh raja-raja daerah dan kota-kota lain. Di sekitar istana tempat kedudukan raja terdapat tempat-tempat kedudukan raja-raja daerah (paduka bhattara) serta para pajabat/pembesar kerajaan.

Pupuh VII

1.Tersebut keajaiban Kota; tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama pura waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Disitulah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda, jaga paseban.

2.Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur;panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat. Di bagian utara, diselatan pecan, rumah berjejel jauh memanjang, sangat indah. Di selatan jalan perempat; balai prajurit tempat pertemuan tiap caitra.

3.Balai agung Manguntur dengan balai witana di tengah, menghadap padang watangan, yang meluas ke empat arah; bagian utara pasebah pujangga dan menteri. Bagian timur pasebah pendeta Siwa-Buda, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan palguna demi keselamatan seluruh dunia.

4.Disebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa. Di selatan tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban beregak di halaman sebelah barat; di utara tempat budha besusun tiga puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkurban.

5.Di dalam , sebelah selatan maguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga lebat. Agak jauh disebelah barat daya; panggung tempat berkeliaran para perwira.tepat di tengah-tengah halaman bertegak mendapa penuh burung ramai berkicau.

6.Didalam, di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua, dibuat bertingkat tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela. Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.

Pupuh XII

1. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng. Timur tempat tinggal pemuka pendeta siwa Hyang Brahmaraja. Selatan Buda-sanga dengan dengan rangkadi sebagai pemuka. Barat tempat para arya, menteri dan sanak-kadang adiraja.

2. Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib. Raja Wengker dan Rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci. Berdekatan dengan Istana Raja Matahun dan Rani Lasem. Tak jauh di sebelah selatan Raja Wilwatikta.

3. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi. Di situ menetap patih Daha, adinda baginda di Wengker. Batara Narapati, Termashur sebagai tulang punggung Praja. Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.

4. Di timur laut patih wilwatikta, bernama Gajah Mada. Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara. Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur. Tangan kanan maharaja, sebagai penggerak roda Negara.

5. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus. sebelah timur perumahan siwa, sebelah barat buda. Terlangkahi rumah para menteri, para ayra dan satria. Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.

6. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang gemilang. Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama. Negara-negara di nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta. (Slamet mulyana 1979: 276, 279)

Bangunan air yang ditemukan di masa Majapahit adalah waduk, kanal, kolam dan saluran air yang sampai sekarang masih ditemukan sisa-sisanya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa pemerintah kerajaan Majapahit membuat bangunan air tersebut untuk kepentingan irigasi pertanian dan sarana mengalirkan air sungai ke waduk: penampungan dan penyimpanan air, serta pengendali banjir.

Hasil penelitian membuktikan terdapat sekitar 20 waduk kuno yang tersebar di dataran sebelah utara daerah Gunung Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno. Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Temon, Kraton dan Kedung Wulan adalah waduk-waduk yang berhubungan dengan Kota Majapahit yang letaknya diantara Kali Gunting di sebelah barat dan kali Brangkal di sebelah timur. Hanya waduk Kedung Wulan yang tidak ditemukan lagi sisa-sisa bangunannya, baik dari foto udara maupun di lapangan.

Waduk Baureo adalah waduk terbesar yang terletak 0,5 km dari pertemuan Kali Boro dengan Kali Landean. Bendungannya dikenal dengan sebutan Candi Lima. Tidak jauh dari Candi Lima, gabungan sungai tersebut bersatu dengan Kali Pikatan membentuk Kali Brangkal. Bekas waduk ini sekarang merupakan cekungan alamiah yang ukurannya besar dan dialiri oleh beberapa sungai. Seperti halnya Waduk Baureno, waduk-waduk lainnya sekarang telah rusak dan yang terlihat hanya berupa cekungan alamiah, misalnya Waduk Domas yang terletak di utara Waduk Baureno; Waduk Kumitir (Rawa Kumitir) yang terletak di sebelah barat Waduk Baureno; Waduk Kraton yang terletak di utara Gapura Bajangratu; dan Waduk Temon yang terletak di selatan Waduk Kraton dan di barat daya Waduk Kumitir.

Disamping waduk-waduk tersebut, di Trowulan terdapat tiga kolam buatan yang letaknya berdekatan, yaitu Segaran, Balong Bunder dan Balong Dowo. Kolam Segaran memperoleh air dari saluran yang berasal dari Waduk Kraton. Balong Bunder sekarang merupakan rawa yang terletak 250 meter di sebelah selatan Kolam Segaran. Balong Dowo juga merupakan rawa yang terletak 125 meter di sebelah barat daya Kolam Segaran. Hanya Kolam Segaran yang diperkuat dengan dinding-dinding tebal di keempat sisinya, sehingga terlihat merupakan bangunan air paling monumental di Kota Majapahit.

Kolam Segaran pertama kali ditemukan oleh Maclaine Pont pada tahun 1926. Kolam ini berukuran panjang 375 meter dan lebar 175 meter dan dalamnya sekitar 3 meter, membujur arah timurlaut – baratdaya. Dindingnya dibuat dari bata yang direkatkan tanpa bahan perekat. Ketebalan dinding 1,60 meter. Di sisi tenggara terdapat saluran masuk sedangkan di sisi barat laut terdapat saluran keluar menuju ke Balong Dowo dan Balong Bunder.

Foto udara yang dibuat pada tahun 1970an di wilayah Trowulan dan sekitarnya memperlihatkan dengan jelas adanya kanal-kanal berupa jalur-jalur yang bersilangan saling tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur. Juga terdapat jalur-jalur yang agak menyerong dengan lebar bervariasi, antara 35-45 m atau hanya 12 m, dan bahkan 94 m yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas penduduk masa kini.

Kanal-kanal di daerah pemukiman, berdasarkan pengeboran yang pernah dilakukan memperlihatkan adanya lapisan sedimentasi sedalam empat meter dan pernah ditemukan susunan bata setinggi 2,5 meter yang memberi kesan bahwa dahulu kanal-kanal tersebut diberi tanggul, seperti di tepi kanal yang terletak di daerah Kedaton yang lebarnya 26 meter diberi tanggul. Kanal-kanal itu ada yang ujungnya berakhir di Waduk Temon dan Kali Gunting, dan sekurang-kurangnya tiga kanal berakhir di Kali Kepiting, di selatan Kota Majapahit. Kanal-kanal yang cukup lebar menimbulkan dugaan bahwa fungsinya bukan sekedar untuk mengairi sawah (irigasi), tetapi mungkin juga untuk sarana transportasi yang dapat dilalui oleh perahu kecil.

Kanal, waduk dan kolam buatan ini didukung pula oleh saluran-saluran air yang lebih kecil yang merupakan bagian dari sistem jaringan air di Majapahit. Di wilayah Trowulan gorong-gorong yang dibangun dari bata sering ditemukan ukurannya cukup besar, memungkinkan orang dewasa untuk masuk ke dalamnya. Candi Tikus yang merupakan pemandian (petirtaan) misalnya, mempunyai gorong-gorong yang besar untuk menyalurkan airnya ke dalam dan ke luar candi. Selain gorong-gorong atau saluran bawah tanah, banyak pula ditemukan saluran terbuka untuk mengairi sawah-sawah, serta temuan pipa-pipa terakota yang kemungkinan besar digunakan untuk menyalurkan air ke rumah-rumah, serta selokan-selokan dari susunan bata di antara sisa-sisa rumah-rumah kuno. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Majapahit telah mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap sanitasi dan pengendalian air.

Melihat banyak dan besarnya bangunan-bangunan air dapat diperkirakan bahwa pembangunan dan pemeliharaannya membutuhkan suatu sistem organisasi yang teratur. Hal ini terbukti dari pengetahuan dana teknologi yang mereka miliki yang memungkinkan mereka mampu mengendalikan banjir dan menjadikan pusat kota terlindungi serta aman dihuni.

Sampai sekarang, baik dari prasasti maupun naskah kuno, tidak diperoleh keterangan mengenai kapan waduk dan kanal-kanal tersebut dibangun serta berapa lama berfungsinya. Rusaknya bangunan-bangunan air tersebut mungkin diawali oleh letusan Gunung Anjasmoro pada tahun 1451 yang membawa lapisan lahar tebal yang membobol Waduk Baureno dan merusak sistem jaringan air yang ada. Candi Tikus yang letaknya diantara Waduk Kumitir dan Waduk Kraton bahkan seluruhnya pernah tertutup oleh lahar.

Keadaan kerajaan yang kacau karena perebutan kekuasaan ditambah dengana munculnya kekuasaan baru di daerah pesisir menyebabkan kerusakan bangunan air tidak dapat diperbaiki seperti sediakala. Erosi dan banjir yang terus menerus terjadi mengakibatkan daerah ini tidak layak huni dan perlahan-lahan ditinggalkan oleh penghuninya.

Perkampungan dan dusun



Tidak diketahui secara pasti bagaimana bentuk rumah tradisonal peninggalan Kerajaan Majapahit yang sesungguhnya. Dari sejumlah artefak yang ditemukan yang berkaitan dengan okupasi kerajaan sulit rasanya untuk memberi contoh baku dari prototipe rumah Majapahit ini. Tapi ada segopok artefak dari tanah liat bakar berupa miniatur rumah dan temuan struktur bangunan yang diduga sebagai tipikal rumah Majapahit.

Ekskavasi di Trowulan tahun 1995 menunjukkan adanya struktur bangunan berupa kaki dari tanah yang diperkuat dengan susunan batu yang berspesi tanah setebal 1 cm, membentuk sebuah batur rumah. Denah batur berbentuk empat persegi panjang, ukurannya 5,20 x 2,15 meter dan tinggi sekitar 60 cm. Di sisi utara terdapat sebuah struktur tangga bata yang terdiri dari 3 anak tangga. Dari keberadaan dan tata letak tangga, dapat disimpulkan bahwa rumah ini menghadap ke utara dengan deviasi sekitar 90 55 ke timur, seperti juga orientasi hampir dari semua arah struktur bangunan yang ada di situs Trowulan.

Pada kedua sisi kaki bangunan terdapat selokan terbuka selebar 8 cm dan dalam 10 cm. Di depan kaki bangunan selokan itu mengikuti bentuk denah bangunan tangga. Selokan tersebut dibangun dari satuan-satuan bata sehingga struktur selokan lebih kuat, dan airnya bisa mengalir lebih cepat Di sekitar kaki bangunan ditemukan lebih dari 200 pecahan genteng dan 70 pecahan bubungan dan kemuncak, serta ukel (hiasan dari terakota yang ditempatkan di bawah jurai atap bangunan).

Halaman bangunan strukturnya amat menarik dan unik. Tanah halaman ditutup dengan struktur yang berkotak-kotak, dan masing-masing kotak dibatasi dengan bata yang dipasang rebah dikeempat sisinya, dan di dalam kotak berbingkai bata tersebut dipasang batu-batu bulat memenuhi seluruh bidang. Tutupan semacam ini berfungsi untuk menghindari halaman menjadi becek bila hujan turun. Belum pernah ditemukan penutup halaman yang semacam ini, kecuali yang agak serupa ditemukan di selatan situs Segaran II.

Dari temuan itu dapat diasumsikan bahwa tubuh bangunan didirikan di atas batur setinggi 60 cm. Kemungkinan bangunan dibuat dari kayu (papan) dan bukan dari bata karena di sekitar areal bangunan tidak ditemukan bata dalam jumlah yang besar sesuai dengan volume bangunannya. Mungkin tubuh bangunan dibuat dari kayu (papan) atau anyaman bambu jenis gedek atau bilik. Tiang-tiang kayu penyangga atap tentunya sudah hancur, agaknya tidak dilandasi oleh umpak-umpak batu yang justru banyak ditemukan di situs Trowulan, karena tak ada satu pun umpak yang ditemukan di sekitar bangunan.

Tiang-tiang rumah mungkin diletakkan langsung pada lantai yang melapisi permukaan batur. Atap bangunan diperkirakan mempunyai sudut kemiringan antara 35-600 ditutup dengan susunan genteng berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 24 x 13 x 0,9 cm dengan jumlah sekitar 800-1000 keping genteng yang menutupinya. Bagian atas atap dilengkapi dengan bubungan dan kemuncak serta pada ujung-ujung jurainya dipasang hiasan ukel.

Rekonstruksi bangunan rumah yang didasarkan atas bukti yang ditemukan di situs tersebut dapat dilengkapi melalui perbandingan dengan bentuk-bentuk rumah beserta unur-unsurnya yang dapat kita lihat wujudnya dalam; (1). Artefak sejaman seperti pada relief candi, model-model bangunan yang dibuat dari terakota, jenis-jenis penutup atap berbentuk genteng, sirap, bambu, ijuk; (2).Rumah-rumah sederhana milik penduduk sekarang di Trowulan, dan (3). Rumah-rumah di Bali.

Lepas dari status sosial penghuni rumah ini, ada hal lain yang menarik, yaitu penduduk Majapahit di Trowulan, atau setidak-tidaknya penghuni rumah ini telah menggabungkan antara segi fungsi dan estetika. Halaman rumah ditata sedemikian rupa untuk menghindari genangan air dengan cara diperkeras dengan krakal bulat dalam bingkai bata.

Di sekliling bangunan terdapat selokan terbuka yang bagian dasarnya berlapis bata untuk mengalirkan air dari halaman. Dilengkapi pula dengan sebuah jambangan air dari terakota yang besar, dan kendi berhias, memberi kesan pada sebuah halaman rumah yang tertata apik. Di sebelah timur terdapat beberapa struktur bata yang belum berhasil diidentifikasi. Mungkin rumah yang ukurannya relatif kecil ini hanya merupakan salah satu kompleks bangunan yang berada dalam satu halaman seluas 200-an meter persegi tersebut dikelilingi oleh pagar seperti yang dapat kita saksikan di Bali sekarang ini.

Hubungan Diplomatik



Baru setelah seluruh jawa timur dikuasai penuh Majapahit mulai menjangkau pulau-pulau diluar jawa yang disebut nusantara menurut pararaton politik perluasan wilayah ke nusantara berkaitan dengan program politik Gajah Mada yang diangkat sebagai patih Amangku bumi pada tahun 1334. Untuk menjalankan perograam politik tersebut pembesar-pembesar majapahit yang tidak setuju sisingkirkan oleh Gajah Mada, namun pelaksanaannya berjalan mulai tahun 1343 dengan penundukan Bali, pulau yang paling dekat dengan jawa.

Peperangan

Berita Cina dari dinasti ming menyatakan bahwa pada tahun 1377 Suwarnabumi diserbu oleh tentara jawa. Putra Mahkota Suwarnabumi tidak berani naik tahta tanpa bantuan dan persetujuan dari kaisar Cina. Karena takut kepada raja jawa. Kaisar cina lalu mengirim utusan ke Suwarnabumi untuk mengantarkan surat pengngkatan namun ditengah jalan dicegat oleh tentara jawa dan dibunuh. Meski pun demikian, kaisar tidak mengambil tindakan balasan terhadap raja jawa, karena mengakui tindakan balasan tidak dapat dibenarkan. Sebab utama serbuan tentara jawa pada tahun 1377 ialah pengiriman utusan ke cina diluar pengetahun raja jawa oleh raja Suwarnabumi pada tahun 1373. Pengiriman utusan itu dipandang sebagai pelanggaran setatus Negara Suwarnabumi, yang sebenarnya dalah Negara bawahan Majapahit; tarkih pendudukan Suwarnabumi kiranya disekitar tahun 1350 keruntuhannya menyebabkan jatuhnya daerah-daerahnya di Sumatra dan semenanjung tanah melayu kedalam kekuasan Majapahit. 12 negara bawahah Suwarnabumi; 1) Pahang, 2) Trengganu, 3) Langkasuka, 4) Kelantan, 5) Woloan, 6) Cerating, 7) paka, Tembeling, 9) Berahi, 10) Palembang, 11) Muara Kampe, 12) Lamuri, hamper semuanya disebut Negara bawahan Majapahit dalam Nebarakertagama. Daftar itu juga menyebu nama daerah bawahan lainnya. Rupannya Palembang dijadikan batu loncatan bagi tentara Majapahit untuk menundukan daerah-daerah lainya disebelah barat pulau Jawa.

Namun di daerah-daerah ini tidak ditemukan piagam sebagi bukti adanya kekuasan Majapahit hikayat-hikayat daerah yang ditulis kemudian menyinggung adanya hubungan antara berbagai daerah dan Majapahit dalam bentuk dongeng, tidak sebagi catatan sejarah khusus. Dongengan itu hanya menunjukan kekaguman-kekaguman terhadap Majapahit. Sejarah melayu mencatat dongengan tentang serbuan kejayaan Tumasik oleh tentara Majapahit berkat Blot seorang pegawai kerajaan, yang bernama Rajuna Tapa. Konon sehabis peperangan Rajuna Tapa kena umpat sebagai balasan kianatnya, berubah menjadi batu disungai Singapura, rumahnya roboh, dan beras simpanannya menjadi panah. Dongengan itu mengingatkan serbuan Tumasik oleh tentara Majapahit sekitar tahun 1350, karena Tumasik termasuk kedalam salah satu pulau yang harus ditundukan dalam program politik Gajah Mada dan tercatat dalam daftar daerah bawahan Majapahit didalam Negarakertagama. Negara islam samudra di Sumatra Utara juga tercatat sebagai Negara bawahan Majapahit. Dongengan tentang serbuan Pasai oleh tentara Majapahit diberitakan dalam hikayat raja-raja Pasai. Isinya demikian. Pada pemerintahan sultan Ahmad di pasai putrid Gemerencang dari Majapahit jatuh cinta kepada Abdul jalil putra raja Ahmad. Oleh karena itu ia berangkat ke pasai dengan membawa banyak kapal sebelum mendarat terdengar kabar bahwa abdul Jalil dibunuh oleh bapaknya. Karena kecewa dan putus asa Putri Gemerencang berdoa kepada dewa agar kapalnya tenggelam. Do’a itu dikabulkan dan kapalnya tenggelam, mendengar kabar itu nata Majapahit menjadi murka, lalu menerahkan tentara untuk menyerang pasai. Ketika Majaphit menyerbu pasai sultan Ahmad berhasil melarikan diri namun pasi dapat dikuasi.

Ekpedisi ke Sumatra mungkin sekali dipimpin oleh Gajah Mada sendiri karena ada beberapa nama temapt disumatra yang mengingatkan serbuan pasai oleh tentara Majapahit dibawah pimpinan Gajah Mada dan memang dongengnya ditapsirkan demikian oleh masyarakat setempat. Misalnya sebuah bukit di dekat kota Langsa yang bernama Majak pahit. Menurut dongengan tentar Majapahit membuat benteng di bukit itu dalam persiapan menyerang Temiang. Rawa antara Perlak dan Peu dadawa bernama Paya gajah (Gajah Mada) menurut dongeng rawa itu dilalui oleh tentara Majapahit dibawah pimpinan Gajah Mada dlam perjalanan menuju Lok Semawe dan Jambu Air yang menjadi sasaran utamanya.

Pasunda Bubat (Perang Bubat).

Yang dimaksud dengan istilah perang bubat ialah perang antara tentara Sunda dengan tentara Majapahit di lapangan Bubat. Peristiwa itu tidak disebut dalam Negarakertagama, meskipun Mpu Prapanca membuat uraiaan yang panjang tentang lapangan Bubat dalam pupuh LXXXVI. Pasunda Bubat menurut anggapan Prapanca bukan suatu pristiwa yang memberi sumbangan kepada keagungan Majaphit oleh karena itu di langkahi saja. Pasunda Bubat diuraikan panjang dalam Pararato dan khusus menjadi tema kidung Sundayana. Asal mula pasunda buabat itu sebagi berikut. Perabu Hayam Wuruk bermaksud untuk mengambil putir Sunda Diah Pitaloka sebagi permaesuri, patih Mada diutus menghadap raja Sunda untuk menyampaikan pesan tersebut. Raja Sunda datang ke Majapahit tetapi tidak membawa sang puteri. Karena kehendak orang Majapahit menginginkan agar puteri Pitaloka dipersembangkan sebagai upeti kepada Sang Prabu.

Patih Gajah Mada tidak suka bahwa perkawinan antar sang Prabu dan putrid Diah Pitaloka dilakukan secara biasa, namun Maharaja Sunda tidak suka dengan sikap demikian dengan serta merta balai penginapan Maharaja Sunda dikepung oleh tentara Majapahit atas perintah Gajah Mada. Maharaja Sunda bermaksud akan menyerah dan menuruti kehendak Gajah Mada, tetapi para menak, yang mengikuti maharaja sunda menolak sambil berkata, bahwa mereka tidak bersedia tidak mau menyerah mentah-mentah kepada Gajah Mada. Mereka bersedia mati dilapangan Bubat, jika terjadi peperangan. Kesanggupan para menak itu membangkitkan semangat perang pada maharaja Sunda. Larang Agung, tuan Sohan, Tuan Gempong, Panji Melong, orang penghulu, orang saya, orang ranggakaweni, orang Siri, Sutrajali dan Jagat sraya, Orang sunda bersorak. Dalam pertemputran maharaja Sunda dan Tuan Usus gugur. Orang sunda menyerang kejurusan selatan. Sementara tetntara Majapahit kocar4-kacir, namun serangan berhasil ditangkis oleh arya Sentong, patih Gowi, Patih Margalewi, patih Teteng, dan Jaran Baya. Para mentri araraman berkuda ganti menyerang. Tentara sunda berantakan lalu berganti haluan. Mereka menuju arah Barat daya dan langsung berhadapan dengan Gajah Mada. Tetapi setiap orang sunda yang mendekati Gajah Mada dapat di bunuh. Peristiwa itu terjadi pada tahun saka sanga turangga paksa wani: 9 kuda bersayap berani: nilainnya 1279, atau tahun A.D. 1357. Itulah perang pasunda Bubat dalam Pararaton.

Sedangkan menurut laporan isi kidung Sundayana, yang ditulis pada tahun saka 1775 (A. D. 1853) dalam bentuk tembang macapat. Dalam kidung sundayana, tercatat bahwa putri Sunda Dyah Pitaloka diantar ke majapahit. Setelah tentara Sunda kalah, Prabu Hayam Wuruk segera menuju pasanggrahan untuk menemui Dyah Pitaloka. Namun Dyah Pitaloka kedapatan telah mati, bersandar pada bantal. Sang Prabu terharu melihatnnya. Setelah dilakukan upacara pembakaran zenajah yang dihadiri oleh para pembesar Majapahit, sang prabu langsung masuk pura mengenangkan Dyah Pitaloka. Karena kurang makan dan tidur, akhiirnya dia jatuh sakit. Dalam bulan kartika (Oktober-November) sang prabu siuman lalu mangkat (mati). Tidak bisa dibayangkan bahwa suasana istana saat itu sangat tidak stabil, semua pembesar Majapahit datang melawat. 37 hari lamanya zenajah baginda disiapkan untuk pembakaran di Pancaka.

Perdagangan

Sumber Cina banyak menyebutkan mengenai hubungan perdagangan dengan mjapahit. Sumber Cuna menyebutkan adanya dua jalur perjalanan yang ditempuh, yaitu jalur barat dan jalur timur. Jalur sebelah barat menghubungkan Negara Majapahit dengan Negara-negara tetangga yang lain seperti Vietnam, Muangtai, Malaya, dan seterusnya menyusuri Sumatra dan pantaui Uatar Jawa. Dari Jawa perdagangan dilanjutkan ke timur yakni Bali, dan Timor, sementara jaringan yang lain menuju ke daerah Indonesia Timur, Kalimantan, Filipina dan terus ke Cina.

Nagarakertagama pupuh

LXXXIII/3 juga mencatat bahwa banyak pedagang dari jambudwipa, Kamboja, Campa, Yawana, Cina, Siam, Goda, Karnatas (Mysore di India) datang ke Majapahit. Boleh dipastikan bahwa sebaliknya pedagang-pedagang Jawa ke tempat-tempat tersebut.

Ramainya perdagangan Majapahit terbukti dari banyaknya pedagang asing yang ada di sana. Menurut Ma Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng Lain, disebutkan bahwa Majapahit banyak bermukim orang-orang Cina dari Canton, Chang Chou, Ch’uan dan Fukien. Bahkan di Gresik terdapat kurang lebih 1000 keluarga Cina Canton yang diantaranya termasuk bangsa asing dari Jambudwipa (India), Kamboja, Campa (Laos), Yawana, Goda, dan Kanataka.

Dalam hal ini Tuban adalah pelabuhan ekspor hasil Bumi yang berasal dari Jawa atau pupau lainnya. Barang dagangan yang diekspor meliputi lada, garam, rempah-rempah, mutiara, kulit penyu, gula, pisang, kayu cendana, kelapa kapas, sutera, belerang, perak, emas, dan budak belian. Beras juga di ekspor dari Tuban untuk Indonesia Timur. Disana beras ditukar dengan rempah-rempah yang selanjutnya dikirik ke Cina. Pelabuhan yang tidak kalah pentingnya adalah Gresik yang mengekspor berasnya sampai ke Malaka.

Adanya perdagangan budak belian, merupakan satu hal yang menarik disamping komoditi lain.kitab Cina Ling wai tai ta menyebutkan budak-budak diangkut dengan kapal Campa dari Jawa. Agaknya budak itu didatangkan dari Blambangan. Seorang budak belian laki-laki harganya sama dengan3 tael bahan wangi-wangian (1tael Jawa sama dengan 0,056 kg). sementara itu orang-orang Madura pun berdagang budak dengan orang-orang Indonesia Timur dengan menggunakan Perahu kecil “Lancaran”.

Tentang barang dagang yang lain, beras biasanya didatangkan dari seluruh negeri dan menjadi sandaran utamaperdangangan kerajaan. Sedang garam umunya dihasilkan dari pantai utara Jawa, Kulit penyu dari Jawa Timur bagian Selatan, mutiara dari Mluku, emas perak dari Jawa Brat. Sebaliknya orang-orang cina membawa barang kelontong , seperti Sutera keramik, uang kepeng dan arak.

Jajahan Antara tahun 1343 dan 1347 empu aditia warman meninggalkan jawa untuk mendirikan kerajaan malayapura di Minangkabau, Sumatra, seperti diberitakan dalam piagam sansekerta pada arca Amoghapasa, 1347. Pada piagam itu Aditia Wrman bergelar Tuhan Patih, gelar sebutan tuan patih dalam sebutan Amoghapasa tersebut menunjukan bahwa aditia Warman menjalankan pemerintahan di Malaya pura atas nama Raja Majapahit Tribuwarna Tunggadewi Jaya Wisnu Wardani

Mengenai hunbungan Majapahit dengan tanjung pura atau Kalimantan terdapat dalam berita dinasti Ming: kaisar mengeluarkan pengumuman tentang pengangkatan Hyawang sebagai raja Pu-ni untuk menggantikan ayahnya. Hyawang dan pamannya konon memberitahukan bahwa kerajaannya setiap tahun membayar upeti sebanyak 40 kati kapur barus kepada raja jawa mereka mohon agar kisar mengeluarkan pengumuman tentang pembatalan upeti itu agar upeti itu dapat dikirim ke Negara kisar.

Pu-ni biasa disamakan dengan Brunei. Demikianlah Brunei itu menjadi bawahan Majaphit pada pertengahan kedua abad 14. Hal ini sesuai dengan pemberitaan Negarakertagama yang menyebut Barune. Penyebutan Kutai bagian timur Kalimantan dalam pupuh XIII/1 sebagai tanjung Kutai, hubungan antara kutei dan Majapahit diberitakan dalam silsilah Kutei.

Pupuh XIII

1. Terperinci dalam Negara bawahan, paling dulu M’layu: jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikun juga disebut daerah Kandis, Khawas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Madailing, Tamihang; Negara Perlak dan Padang.

2. Lwas dengan samudra serta lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus itulah trutama Negara-negara melayu yang telah tunduk. Negara-negara di pulau tanjung Negara: Kapuas-Katingan sampi Kota Lingga Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.

Silsilah kutai:

“kemudian maharaja Sultan dan maharaja sakti berangkat ke Majapahit untuk mempelajari tata Negara Majapahit. Ikut bersama mereka adalah maharaja Indra Mulia dari Mataram. Tersebut perkataan maharaja sultan dua bersudara di Majapahi. Mereka diajarkan tatacara dikeraton dan adat yang dipakai oleh semua mentri. Hatta beberapa lama mereka pun kembali ke Kutai. Sebuah keraton yang berbau tata cara jawa pun didirikan. Sebuah pintu gerbang yang dibawa pulang dari Majaphit dijadikan hiasan Keraton itu.”

Dongeng diatas jelas mengingatkan hubungan kutai dan Majapahit yang mungkin bertarikh dari pertengahan abad ke 14 masa kejayaan Majapahit.Mengenai pulau-pulau disebelah timur jawa pertama disebut pulau Bali yang ditundukan pada tahun 1343, berikut pulau Lombok dan Gurun yang dihuni oleh suku sasak. Kedua pulau ini hingga sekarang menunjukan adanya pengaruh kuat dari Majapahit, sehingga pemguasaan Bali dan Lombok tidak diragukan. Kota Dompo yang terletak di pulau Sumbawa menurut Negarakertagama LXXII/3 dan Pararaton ditundukan oleh Majapahit yang dipimpin oleh Mpu Nala pada tahun 1357. Penemuan piagam Jawa dari abad 14 di pulau Sumbawa memperkuat pembeeritaan Negarakertagama dan Pararaton di atas, sehingga penguasaan Jawa atas Sumbawa tidak dapat lagi diragukan.

Piagam ini ialah satu-satunya yang pernah ditemukan diluar pulau Jawa. Rupanya Dompo dijadikan batu loncatan bagi Majapahit untuk menguasai pulau-pulau kecil lainnya disebelah TImur sampai Wanin di pantai Barat Irian. Berbeda dengan disumtra dan Kalimantan disebelah timur jawa, keculali dibali dan di Lombok tidak ada hikayat-hikayat daerah, oleh karena itu juga tidak ada dongengan tertulis tentang hubungan Majapahit dengan daerah-daerah tersebut.

Kekeluargaan

Hubungan Banjar dan kota Waringin di Kalimantan Selatan dengan Majapahit diberitakan dalam hikayat Banjar dan kota Waringi dalam bntuk perkawinan antara putrid Junjun Buih anak pungut lembu Mangurat dan Raden Suryanata dari Majapahit seperti berikut:

“adapun raja Majapahit itu setelah memperoleh anak yang keluar dari matahari ini, masih beroleh enam ank lainya dan negeripun terlalu makmur. Maka pada keesokan harinya Lembu Mangurat pun berangkat ke Majapahit dengan pengiring yang banyk sekali. Sesampainya di Majapahit Lembu Mangurat diterima dengan baik. Permintaan akan Lembu Mangurat akan raden putra sebagi suami putrid Junjung Buih juga dikabulkan.Maka kembalilah Lembu Mangurat ke Negerinya. Pesta besar-besaran diadakan untuk mengawinkan putrid Junjung Vuih dengan raden Putra. Sebelum perkawinan dilangsungkan, terdengar suara gaib meminta raden Putra menerima mahkota dari langit. Mahkota itulah yang akan meresmikan raden Putra menjadi raja turun temurun. Hanya keturunannya yang diridho’i yang boleh memakai mahkota itu. Maka persta perkawinanpun berlangsunglah. Adapun nama raden Putra yang sebenarnya ialah raden Suryanata artinya raja Matahari.

Dalam praraton juga dikisahkan mengenai Raden Wijaya yang menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Kalagěmět. Seorang perempuan lain yang juga datang bersama Dara Petak yaitu Dara Jingga, diperisteri oleh kerabat raja bergelar 'dewa' dan memiliki anak bernama Tuhan Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, raja kerajaan Malayu di Sumatera. Kedatangan kedua orang perempuan dari Jambi ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh Kěrtanāgara kepada raja Malayu di Jambi untuk bersama-sama membendung pengaruh Kubhilai Khan. Atas dasar rasa persahabatan inilah raja Malayu, Śrimat Tribhūwanarāja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua kerabatnya untuk dinikahkan dengan raja Singhasāri. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Dara Jingga tidak betah tinggal di Majapahit dan akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya.

Serat Kanda dan Babad Tanah Jawi memberitakan bahwa pada permulaan abad lima belas raja Brawijaya dari majapahit kawin dengan dengan puteri Campa, seorang Muslim, yang juga bergelar puteri Dharawati. Oleh karena puteri Campa itu meninggal pada tahun 1448 seperti tercatat pada batu nisannya di Trowulan, ia meninggalkan Campa kira-kira pada Zaman pemerintahan Indrawarman.

Dalam Negara kertagama pupuh XV mencatat beberapa Negara tetangga yang mempunyai hubungan persahabatan dengan Majapahit. seperti: Sin (Syangka), Aydhapura, Thai, Darmanegara, Martaban (Birma), Kalingga (Rajapura), Singanagari, Campa, Kamboja, Annam (Yawana), Cina dll.

Daftar nama itu serupa dengan nama-nama yang disebut dalam pupuh LXXXIII yang berkenaan dengan tamu-tamu asing yang sering berkunjung ke Majapahit.

Pupuh XV/1 Inilah nama-nama Negara asing yang mempunyai hubungan. Siam dengan Ayudirapura, begitupun Darmanagari. Marutama, rajapura begitujuga Singanagari. Capma, Kamboja dan Yawana yalah Negara sahabat.

Pupuh LXXXIII/4

Itulah sebabnya tamu asing datang berkunjung dari Jambudwipa, Kamboja, China, Yamana, Champa, dan Karnataka. Goda serta Siam mengarungi lautan bersama para pedagang. Resi dan pendeta, semua merasa puas, menetap dengan senang.

Menurut Slamet Muljana, hubungan persahabatan itu dimaksudkan untuk usaha dalam menghindarkan serbuan tentara asing di daerah bawahan bawahan majapahit di sebrang lautan, terutama disemenanjung tanah melayu, karena Negara-negara ttangga itu kebanyakan berbatasan atau berdekatan dengan daerah bawahan tersebut. Hal lainnya adalah, Negara-negara tetangga tersebut mempunyai keamaan dalam menganut Hindu-Budha yang sama dengan Majapahit. Untuk menjamin keamanan dan kelangsungan pelayaran atau perdagangan ,

Pemerintahan

Majapahit memiliki struktur pemerintahan Monarki dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi.

Geneologi

Majapahit adalah kerajaan yang didirikan oleh Naraya Sanggramawijaya, putera Lembu Tal, keturunan Narasingamurti, menantu prabu Kertanagara dari Singgasari. Namun ia tidak mewaris kerajaannya dari raja kertanegara raja terakhir Singgasari. Pada hakekatnya timbulnya kerajaan Majapahit berkat usahanya sendiri dengan bantuan para pengikutnya. Jabatan kepala Negara bersifat turun-temurun. Jadi yang memerintah kerajaan Majapahit menururt ketetapan adat ialah keturunan naraya Sangramawijaya. Dalam perkembangan sejarah Majapahit memang diperintah oleh keturunan Naraya Sangramawijaya sampai pemerintah Suhita dari tahun 1429-1477; kemudian Majapahit diperintah oleh Sri Kertawijaya, putera Wikramawardana, lahir dari selir. Bagai manapun Sri Kertawijaya adalah keturunan Naraya Sanggramawijaya secara tidak langsung.

Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Śri Kĕrtarājasa Jayawardhana. Keempat anak Kertanegara dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari, Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā, Śri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnyāparamitā, dan Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri.

Dari Tribhūwaneśwari ia memperoleh seorang anak laki bernama Jayanagara sebagai putera mahkota yang memerintah di Kadiri. Dari Gayatri ia memperoleh dua anak perempuan, Tribhūwanottunggadewi Jayawisnuwardhani yang berkedudukan di Jiwana (Kahuripan) dan Rājadewi Mahārājasa di Daha. Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Kalagěmět. Seorang perempuan lain yang juga datang bersama Dara Petak yaitu Dara Jingga, diperisteri oleh kerabat raja bergelar 'dewa' dan memiliki anak bernama Tuhan Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 digantikan oleh Jayanāgara.

Seperti pada masa akhir pemerintahan ayahnya, masa pemerintahan raja Jayanāgara banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya dicap sebagai musuh kerajaan. Pada mulanya Jayanāgara juga terpengaruh oleh hasutan Mahāpati yang menjadi biang keladi perselisihan tersebut, namun kemudian ia menyadari kesalahan ini dan memerintahkan pengawalnya untuk menghukum mati orang kepercayaannya itu. Dalam situasi yang demikian muncul Gajah Mada. Ia muncul sebagai tokoh yang berhasil mamadamkan pemberontakan Kuti, padahal kedudukannya pada waktu itu hanya berstatus sebagai pengawal raja (běkěl bhayangkāri).

Pada masa Jayanāgara hubungan dengan Cina kembali pulih. Perdagangan antara kedua negara meningkat dan banyak orang Cina yang menetap di Majapahit. Jayanāgara memerintah sekitar 11 tahun, pada tahun 1328 ia dibunuh oleh tabibnya yang bernama Tanca karena berbuat serong dengan isterinya. Tanca kemudian dihukum mati oleh Gajah Mada.

Karena tidak memiliki putera, tampuk pimpinan Majapahit akhirnya diambil alih oleh adik perempuan Jayanāgara bernama Jayawisnuwarddhani, atau dikenal sebagai Bhre Kahuripan sesuai dengan wilayah yang diperintah olehnya sebelum menjadi ratu. Namun pemberontakan di dalam negeri yang terus berlangsung menyebabkan Majapahit selalu dalam keadaan berperang. Salah satunya adalah pemberontakan Sadĕng dan Keta tahun 1331 memunculkan kembali nama Gajah Mada ke permukaan.

Ratu Jayawisnuwaddhani memerintah cukup lama, 22 tahun sebelum mengundurkan diri dan digantikan oleh anaknya yang bernama Hayam wuruk dari perkawinannya dengan Cakradhara, penguasa wilayah Singhāsari. Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja tahun 1350 dengan gelar Śri Rajasanāgara. Gajah Mada tetap mengabdi sebagai Patih Hamangkubhūmi (mahāpatih) yang sudah diperolehnya ketika mengabdi kepada ibunda sang raja. Setelah peristiwa Bubat, Mahāpatih Gajah Mada mengundurkan diri dari jabatannya karena usia lanjut, sedangkan Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri bernama Pāduka Śori, anak dari Bhre Wĕngkĕr yang masih terhitung bibinya.

Raja Hayam Wuruk wafat tahun 1389. Menantu yang sekaligus merupakan keponakannya sendiri yang bernama Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja, justru bukan Kusumawarddhani yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk. Ia memerintah selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu. Hal ini tidak disetujui oleh Bhre Wirabhūmi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Parěgrěg. Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus melarikan diri setelah Bhre Tumapĕl ikut campur membantu pihak Suhita. Bhre Wirabhūmi kalah bahkan akhirnya terbunuh oleh Raden Gajah. Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan. Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhūmi kini giliran Raden Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan tersebut.

Suhita wafat tahun 1477, dan karena tidak mempunyai anak maka kedudukannya digantikan oleh adiknya, Bhre Tumapĕl Dyah Kĕrtawijaya. Tidak lama ia memerintah digantikan oleh Bhre Pamotan bergelar Śri Rājasawardhana yang juga hanya tiga tahun memegang tampuk pemerintahan. Bahkan antara tahun 1453-1456 kerajaan Majapahit tidak memiliki seorang raja pun karena pertentangan di dalam keluarga yang semakin meruncing. Situasi sedikit mereda ketika Dyah Sūryawikrama Giriśawardhana naik tahta. Ia pun tidak lama memegang kendali kerajaan karena setelah itu perebutan kekuasaan kembali berkecambuk. Demikianlah kekuasaan silih berganti beberapa kali dari tahun 1466 sampai menjelang tahun 1500.

Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit di tahun 1499 tanpa menyebutkan nama rajanya. Semakin meluasnya pengaruh kerajaan kecil Demak di pesisir utara Jawa yang menganut agama Islam, merupakan salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Tahun 1522 Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah kota. Pemerintahan di Pulau Jawa telah beralih ke Demak di bawah kekuasaan Adipati Unus, anak Raden Patah, pendiri kerajaan Demak yang masih keturunan Bhre Kertabhūmi. Ia menghancurkan Majapahit karena ingin membalas sakit hati neneknya yang pernah dikalahkan raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Demikianlah maka pada tahun 1478 hancurlah Majapahit sebagai sebuah kerajaan penguasa nusantara dan berubah satusnya sebagai daerah taklukan raja Demak. Berakhir pula rangkaian penguasaan raja-raja Hindu di Jawa Timur yang dimulai oleh Keng Angrok saat mendirikan kerajaan Singhāsari, digantikan oleh sebuah bentuk kerajaan baru bercorak agama Islam.

Adapun Rajawangsa atau dinasti Majapahit, yang didirikan oleh Naraya Sangramawijaya, tidak bernama Wijaya-Wangsa, melainkan memakai Dinasti Rajasa-Wangsa seperti terbukti dari piagam kertarajasa Jayawardhana pada tahun 1305, lempengan satu baris yang bunyinya: Rajasa-Wangsa, penolong orang utama, pahlawan gagah berani dalam peperangan.

Dengan kata lain Naraya Sanggramawijaya tidak mendirikan Rajawangsa baru, yang disebut dengan unsure namanya, melainkan melanjutkan kerajaan Singgasari, yang terputus oleh raja Jayakatwang pada tahun 1292. Nama Abhiseka Naraya Sanggramawijaya mengandung unsure Rajasa ialah nama pendiri kerajaan Singgasari. Dengan jalan demikian maka Naraya Sanggramawijaya menunjukan kesetiaannya terhadap Singasari, seperti terbukti dari piagam-piagam yang dikeluarkannya.

Pada piagam-piagam itu selalu disebut hubungannya dengan Rajawangsa Singasari.

Sesudah tahun 1451 Majapahit dieperintah oleh raja-raja, yang tidak langsung merupakan keturunan Rajasa-Wangsa. Mereka itu adalah keturunan Bhre Pamotan Sang Sinagara, yang bergelar Girindrawardhana Dyah wijayakarana. Yang jelas ialah bahwa dua diantara tiga raja keturunannya yang memerintah Majapahit sampai tahun 1527 mengambil nama Girindrawarddhanawangsa untuk membedakannya dari Rajasawangsa, namun nama Girindrawarddhanawangsa itu tidak disebut dalam prasasti mana pun. (Gambar Silsilah Geneologi Raja-raja Majapahit terlampir)

Struktur pemerintahan

Dari kitab pararaton dan negarakertagama dapat diketahui bahwa sisitem pemerintahan dan politik di kerajaan Majapahit sudah teratur dengan baik dan berjalan lancar konsep menyatu dengan jagat raya melahirkan pandangan mengenai Cosmoginos, Majapahit sebagai sebuah kerajaan mencerminkan doktrin tersebut, kekuasaan yang bersipat territorial dan disentralisasikan dengan birokrasi yang terperinci. Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa tertinggi, memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan. Wilayah tinggal para dewa lokapala yang terletak di keempat penjuru mata angin. Untuk terlaksananya kekuasaan, raja dibantu oleh sejumlah pembantu yang tidak lain penjabat-penjabat birokrasi kerajaan. Dalam susunan birokrasi demikian, maka semakin dekat hubungan seseorang dengan raja, maka akan semakin tinggi pula kedudukannya dalam birokrasi kerajaan.

Adapun struktur birokrasi dalam hierarki Majapahit di tingkat pusat adalah sebagai berikut.

1. Raja

2. Yuwaraja/Kumaraja (Raja Muda)

3. Rakryan Mahamatri Kartini

4. Rakryan Mantri ri Pakirakiran

5. Dhammadhyaksa

Raja

Raja adalah pemegang otoritas tertnggi baik politik maupun kebijakan istana lainnya. Kedudukannya diperoleh dari hak waris yang telah digariskan secara turun temurun.. Disamping Raja ada kelompok yang disebut sebgai Battara Sapta Prabu atau semisal dengan Dewan Pertimbangan Agung. Dalam Negara kertagama dewan ini disebut Pahom Narendra dan beranggotakan Sembilan orang. Sedang dalam kidung Sundayana dewan tersebut disebut dengan nama Sapata Raja. Misalnya pada masa Raja Hayam Wuruk, mereka yang menduduki jabatan tersebut diantaranya:

a. Raja Hayam Wuruk

b. Kertawardhana (Ayah sang Raja)

c. TRibhuwana Wijayattunggadewi (Ibu Suri)

d. Rajadewi Maharajasa (Bibi sang Raja)

e. Wijayarajasa (Paman Sang Raja)

f. Rajasaduhiteswari (Adik Sang Raja)

g. Rajasaduhitendudewi (Adik sepupupu Sang Raja)

h. Singhawaddhana (Suami Rajasaduhiteswari)

i. Rajasawarddhana (R. Larang, Suami Rajasaduhitendudewi).

Yuwaraja/Kumaraja (Raja Muda)

Jabatan ini biasanay diduduki oleh putera mahkota. Dari berbagai prasasti bahkan negarakertagama diketahui bahwa Para putra mahkota sebelum diangkat menjadi raja pada umumnya diberi kedudukan sebagai raja muda (rajakumara) misalnya, Jayanegara sebelum menjadi raja, terlebih dahulu berkedudukan sebagai Rajakumara di Daha. Hayam Wuruk sebelum naik tahta menjadi Raja Majapahit, terlebih dahulu berkedudukan sebagai Rajakumara di Kabalan. Slamet Mulyana dalam Negarakrtagama dan tafsir sejarahnya (1979: 159), menjelaskan bahwa Jayanegara dinobatkan sebagai raja muda di Kediri pada tahun 1295.

Pengangkatan tersebut dimaksud sebagai pengakuan bahwa raja yang sedang memerintah akan menyerahkan hak atas tahta kerajaan kepada orang yang diangkat sebagai raja muda, jika yang bersangkutan telah mencapai usia dewasa atau jika raja yang sedang memerintah mangkat.

Raja muda Majapahit yang pertama ialah Jayanegara. Raja muda yang kedua adalah Dyah Hayam Wuruk yang dinobatkan di Kahuripan (Jiwana) dengan nama raja abhiseka Sri Rajasanegara. Pengangkatan raja muda tidak bergantung pada tingkatan usia. Baik raja Jayanegara maupun Raja Dyah Hayam Wuruk masih kanak-kanak, waktu diangkat menjadi raja muda, pemerintahan di negara bawahan yang bersangkutan dijalankan oleh patih dan menteri.

Rakryan Mahamatri Kartini Jabatan ini merupakan jabatan yang telah ada sebelumnya. Sejak zaman Mataram Hindu yakni pada masa Rakai kayuwangi, dan tetap ada hingga masa Majapahit. Penjabat-penjabat ini terdiri dari 3 orang yakni: Rakryan Mahamantri I Hino, Rakryan Mahamantri I Halu, Rakryan Mahamntri I Sirikan.

Ketiga penjabata ini mempunyai kedudukan penting setelah raja dan mereka inilah yang menerima perintah langsung dari raja. Namun, mereka bukanalah pelaksana-pelaksana dari perintah raja, titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada dibawahnya. Diantara ketiga penjabat itu, maka Rakryan Mahamntri I Hino adalah yang terpenting dan tertinggi. Ia mempunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti). Oleh sebab itu banyak para ahli yang menduga jabatan in dipegang oleh putra mahkota.

Rakryan Mantri ri Pakirakiran Jabatan ini berupa kelompok penjabat tinggi yang berfungsi semacam Dewan Menteri atau sebagai Badan Pelaksana Pemerintah. Biasanya terdiri dari lima orang (para tanda Rakryan) yakni:

a). Rakryan Mahapatih atau Patih Hamangkubumi

b). Rakryan Tumenggung (Panglima kerajaan)

c). Rakryan Demung (Pengaturan Rumah Tangga Kerajaan)

d) Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)

e). Rakryan Kanuruhan (Penghubung dan tugas-tugas Protokoler).

Para tanda Rakryan ini dalam susunan pemerintahan Majapahit sering disebut Sang Panca Ring wilwatikta atau Mantri Amancanagara. Dalam berbagai sumber urutan jabatan tidak selalu sama. Namun, jabatan Rakryan Mahapatih (Patih Hamangkubumi) adalah yang tertinggi, yakni semacam perdana mentri (Mentri mukya). Untuk membedakan dengan jabatan patih yang ada di Negara daerah (provinsi) yang biasanya disebut (M)apatih atau Rakryan (M)apatih, maka dalam negarakertagama patih hamangkubumi dikenal dengan sebutan Apatih ring Tiktawilwadika. Gelar Gajah Mada sendiri adalah sang Mahamantri Mukya Rakyran mapatih.

Dhammadhyaksa

Dhammadhyaksa yaitu penjabat tinggi yang bertugas dalam Yurisdikdi dan masalah-masalah keagamaan. Jabatan ini diduduki oleh dua orang, yitu:

1. Dhammadhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa dan,

2. Dhammadhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha.

Masing-masing Dhammadhyaksa ini dalam menjalankan tugasnya di bantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut Dharmaupapati, yang jumlahnya amat banyak. Pada jaman Hayam Wuruk hany dikenal adanya Tujuh upapati yang disebut Sang Upapati sapta, Sang Pamget I Tirwan, Kandhamuni, Manghuri, Pamwatan, JHambi, Kandangan Rare, dan Kandangan atuha. Diantara upapati itu ada pula yang menjabat urusan sekte-sekte tertentu, seperti: Bhairawapaksa Saurapaksa, Siddahantapaksa, sang Wadidesnawa, sakara, Wahyaka, dan Lain-lain.

Penjabat lainnya dibawah raja Majapahit ada sejumlah raja-raja derah (paduka bhatara) yang masing-masing memerintah sebuah Negara daerah. Biasanya mereka adalah saudara-saudara raja atau kerabat dekat. Dalam pelaksanaan tugas kerajaan, raja-raja daerah tadi dibebani tugas untuk mengumpulkan penghasilkan kerajaan, menyerahkan upeti kepada perbendaharaan kerajaan dan pertahanan wilayah. Mereka juga dibantu oleh sejumlah penjabat daerah bentuknya hamper sama dengan birokrasi di pusat, tetapi dalam skala yang lebih kecil. Dalm hal ini raja-raja daerah memiliki otonomi untuk mengangkat pejabat-pejabat birokrasi bawahannya.

Selain pejabat birokrasi yang telah di sebutkan tadi, masih banyak pula sejumlah penjabat sipil dan militer lainnya. Mereka itu adalah kepala jawatan (tanda), nayaka. Pratyaya, dan drawwayahaji dan surantani, yang berugas pula sebagai pengawal raja dan lingkungan keratin.

Mengenai birokrasi kerajaan, menurut berita Cina zaman Dinasti Sung (960-1279) menyebutkan, bahwa di jawa raja waktu itu mempunyai lebih dari 300 penjabat yang mencatat penghasilan kerajaan. Selain itu ada kira-kira 1.000 orang penjabat rendahan yang mengurusi benteng-benteng, parit-parit kota, perbendaharaan dan lumbung lumbung Negara. Sedangkan dalam kitab Praniti Raja Kapa-kapa, di uraikan bahwa ada 150 menteri dan 1500 penjabat rendahan.

Melihat struktur pemerintahannya, maka Nampak bahwa di Majapahit system pemerintahan adalah bersipat teotorial dan disentralisassikan, dengan birokrasi yang terperinci, raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa memegang otoritas politik tertinggi di puncak hierarki kerajaan. Hubungan antara raja dengan pegawai-pegawainya dalam birokrasi pemerintahan Kerajaan Majapahit adalah berbentuk hubungan clienship, yaitu ikatan seorang penguasa politik tertinggi dan orang yang dikuasakan untuk menjalankan sebagian dari kekuasaan penguasa tertinggi.Wilayah kerajaan yang berupa Negara-negara daerah disamakan dengan tempat tinggal para dewa lokapala yang terletak di keempat penjuru mata angin.

Pada zaman mapahit para pegawai pemerintahan (penjabat pemerintahan) disebut Tanda, masing-masing diberi sebutan atau gelar, sesuai dengan jabatan yang dipangkunya. Dalam pembahasan soal kepegawaian dan sebutannya berubah dari masanya gelara yang sama dalam kerajaan mataram belum tentu mempunyai makan yang sama pada masa Majapahit, misalnya gelar rake atau rakai dan mangkubumi. Di tinjau dari dari gelar sebutannnya seperti yang kedapatan pada pelbagai piagam dapat digolongkan yakni: (I). golongan Rakrian, (II). Golongan Arya, (III). Golongan dang Acarya.

Golongan Rakrian

Beberapa piagam, diantaranya piagam Surabaya menggunakan gelar reke yang maknanya sama tepat dengan rakrian. Jumlah jabatan yang disertai gelar rakrian, terbartas sekali. Para tanda yang berhak menggunakan gelar rakrian atau rake seperti berikut:

1. Mahamantari kartini. Hanya mempunyai tiga, yaitu: mahamantri hino, mahamantri sirikan dan mahamantri halu. Misalnya pada biagam Kudadu: rakarian mantra hino, Dyah Pamasi; rakrian Mantri Sirikan, Dyah Palisir; rakrian mantra Halu Dyah Singlar.

2. Pasangguhan, jabatan ini disamakan dengan hulubalang. Pada jaman majapahit hanya ada dua jabatan pasangguhan yakni: pranaraja dan nayapati. Misalnya pada piagam kudadu, 1294 : mapasanggahan sang pranaraja, rakrian mantra….. Mpu Siana (nama ini ditemukan dalam piagam Penanggungan); mapasanggahan sang nayapati, empu lunggah. Pada jaman awal majapahit ada empat orang pasangguhan, yakni dua orang yang disebutkan diatas ditambah rakrian mantri dwipantara sang aryaAdikara dan pasangguhan sanh arya Wiraraja.

3. Sang panca wilwatikta yakni lima orang pembesar yang diserahi urusan pemerintah Majapahit. Mereka itu adalah: rangga dan Tumenggung. Misalnya piagam penanggungan menyebut: Rakrian apatih: Pu Tambi; Rakrian demung: Pu Rentang; rakrian kanuhunan : Pu Elam; Rakrian Rangga: Pu Sasi; rakrian tumenggung : Pu Wahana.

4. Juru pangalasan yakni pembesar daerah mancanegara. Piagam penanggungan menyebut raja majapahit sebagai rakrian juru kertarajasa jayawardana atau rakrian mentri Sanggramawijaya Kertarajasa Jayawardhana. Piagam Bendasari menyebut reke jurupengalasan Pu Petul.

5. Para patih Negara-negara bawahan.pada piagam sidateka 1323: rakrian patih Kapulungan : Pu dedesrakrian patih Matahun: Pu Tanu. Piagam penanggungan, 1296, menyebut sang panca ri Daha dengan gelar sebutan rakrian, karena Daha dianggap sejajar dengan Majapahit. Seperti telah diuraikan dimuka.

Golongan arya

Para tanda arya mempunyai kedudukan lebih rendah dari golongan rakrian dan disebut pada piagam-piagam sesudah sang panca Wilwatikta. Ada berbagai jabatan yang disertai gelar sebutan arya. Tentang hal ini piagam sidakerta memberikan gambaran yang agak lengkap, misalnya:

Sang arya patipati: Pu Kapat

Sang arya wangsaprana: Pu Menur

Sang arya Jayapati: Pu Pamor

Sang arya rajaparakrama: Mapanji Elam

Sang arya Suradhiraja: Pu Kapasa

Sang arya rajadhikara: Pu Tanga

Sang arya dewaraja: Pu Aditya

Sang arya dhiraraja: Pu Narayana.

Karena jasa-jasanya seorang arya dapat dinaikan menjadi wreddhamantri atau mantra sepuh. Baik sang arya dewaraja Pu Aditya maupun sang arya dhiraraja Pu Narayana mempunyai kedudukan wreddhamantri dalam piagam Surabaya.

Golongan Dang acarya

Sebutan ini khusus diperuntukan bagi para pendeta Siwa dan Budha yang diangkat sebagai dharmadhyaksa: hakim tinggi, atau upapatti: pembantu dharmadhyaksa dalam ke-siwa-an dan dharmadhyaksa dalam ke-Budha-an. Jumblahupapatti semula hanya lima, semuannya dalam ke-siwa-an, kemudian ditambah dua upapatti ke-Budha-an di kandungan ruha dan kandangan rahe. Semuannya berjumblah tujuh dalam pemerintahan Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara. pembesar-pembesar pengadilan ini biasanya disebut sesudah para arya. Kita ambil contoh susunan pengadilan seperti yang dipaparkan dalam piagam Trawulan, 1358 sebagai berikut:

Daharmdhyaksa kasaiwan : Dang acarya Dharmaraja

Daharmadhyakasa kasogan: Dang acarya Nadendra

Pamegat Tirwan : Dang acarya Siwanata

Pamegat Manghuri : Dang acarya Agreswara

Pamegat Kandamuni : Dang acarya Jayasmana

Pamegat Pamwatan : Dang acaryaWidyanata

Pamegat Jambi : Dang acarya Siwadipa

Pamegat kandangan Tuha : Dang acarya Srigna

Pamegat Kandangan Rare : Dang acarya Matajnyana

Tambahan dua orang upapati yang biasa disebut pamegat atau sang pamegat (Sangat) dilakukan sesudah tahun 1329, pada zaman pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, karena pada piagam berumbung, pamegat Kandangan Tuha dan Rare belum terdapat dan disebut. Penyebutan yang pertama didapati yang pertama terdapat pada piagam nglawang, tidak bertarikh.

Masyarakat

Hubungan raja dengan rakyatnya digambarkan sangat akrab dan ada saling ketergantungan sebagai tercermin dalam Negarakrtagama pupuh LXXXIX, yaitu negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan. Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan.

Perekonomian

Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata

Profesi dan mata pencaharian

Menurut Ma Huan yang disadur dalam bukunya Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya oleh Slametmuljana memberikan penjelasan bahwa di Mjapahit panen padi terjadi dua kali dalam setahun; padinya kecil,kecil, putih. Di sana juga ada buah jarak kara pondang (kuning), menghasilkan kayu sapang, intan kayu cendana putih, buah pala lombok (cili) panjang, baja dan tempurung penyu, baik yang mentah maupun yang sudah masak. Disana juga terdapat berbagai burung seperti burung nuri sebesar ayam, dengan warna; merah, hijau dan sebagainya, beo yang dapat diajari berbicara, kakak tua, joan hijau merak dll. Tidak lupa disana juga terdapat kijang dank era putih. Berbagai binatang yang diternakan oleh masyarakat sekitar adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa. Dan buah-buahan yang dibudi dayakan adalah pisang-pisangan, kelap, tebu, delima, teratai, manggis, semangka, langsap dll.

Sebagai Negara yang rakyatnya hidup dari hasil pertanian, maka pemerintahnya sangat memperhatikan sector pertanian, seperti yang dijelaskan dalam Negarakertagama LXXXII

“Raja kertawardhana membuka hutan di Sagala, raja Wijayarajasa dari Wengker membuka hutan di Surabana, Pasuruan, dan pajang sedangkan Dyah Hayam Wuruk menebangi hutan di Watsari dekat Tigawangi untuk dijadikan lading dan sawah.”

Keterangan lain yang berhubungan dengan pertanian diperoleh dari piagam Kandangan, 1350, memberitakan pembangunan bendungan di daerah Kusmawa oleh demungnya ialah untuk menyediakan perairan demi kepentingan pertanian. Kegiatan masyarakat pedesaan terpusat pada sector pertanian dan peternakan. Hasil dari masyarakat ini digunakan untuk mencukupi makanan masyarakat desa, sebagian dibawa ke kota, dan kelebihannya di jual di pasar. Keterangan lain yang menceritakan pengelolaan pedesaan terdapat dalam Negara kertagama LXXXVIII, yaitu menekankan pembinaan desa demi kemajuan dan keselamatan masyarakat desa. Dianjurkan agar jembatan-jembatan dan jalan-jalan dibina sebaik-baiknya, lading dan sawah dijaga kesuburannya dan digarap sebaik-baiknya.

Dalam undang-undang Manawa fasal 260-262 menjelaskan tentang pertanian dan peternakan, berbunyi:

“Barang siapa yang membakar padi di ladang, tidak pandang besar kecilnya, harus membayar padi lima kali lipat kepada pemiliknya, ditambah denda sebesar dua puluh ribu. Barang siapa mengurangi penghasilan makanan misalnya dnegan mempersempit sawah atau membiarkan terbengkalai segala apa yang dapat menghasilkan makanan, atau melalaikan bianatang apa pun, kemudian hal tersebut diketahui orang banyak, orang yang demikian itu diperlakukan sebagai pencuri dan pidana mati. Barang siapa yang melarang saudaranya untuk turut mengerjakan tanah, dikenakan denda seratus enam puluh ribu oleh Sang Amawabhumi. Orang itu dikatakan: Atulak kadang warga.”

Penduduk yang ada di pantai utara terutama yang berdekatan dengan pelabuhan seperti Tuban Gersik, Surabaya dan Canggu, kebanyakan menjadi pedagang. Menurut berita Ma Huan kota-kota pelabuhan banyak tinggal pedangang dari Arab dan Cina. Sedangkan orang pribumi datang kesana untuk berdagang. Barang yang menjadi komoditas disana adalah batu bermutu dan barang buatan luar negeri barang dibeli dalam jumlah banyak. Mereka sangat suka membeli barang pecah belah dari porselen Cina yang bergambar bunga-bungaan, berwarna hijau, minyak wangi, kain sutra dan katun baik yang berguna maupun yang polos. Mereka membayarnya dnegan uang tembaga dari Cina, uang tembaga dari berbagai dinasti di cina laku disana.

Moneter

Trowulan, sebagai salah satu kota kuno masa klasik yang ditemukan di Indonesia, memiliki peninggalan mata uang yang merupakan salah satu bukti adanya sistem moneter dan hubungan perdagangan dengan bangsa lain. Mata uang yang ditemukan selain dari mata uang lokal (kepeng) juga mata uang Cina. Hingga saat ini temuan mata uang Cina yang berhasil diselamatkan di Balai Pelestarian Purbakala Trowulan sebanyak 34.175 keping, baik dalam kondisi utuh maupun pecah atau telah mengalami patinasi.

Penelitian mengenai mata uang Cina di Trowulan sampai pada kesimpulan bahwa mata uang sebagai alat tukar yang beredar di Kota Majapahit ternyata berasal dari beberapa jaman. Diperkirakan hubungan antara Indonesia dan Cina telah terjadi sejak abad V dan mengalami peningkatan pada abad XIII ketika Majapahit mengalami kejayaannya.

Lajunya pertumbuhan perdagangan tersebut selain karena Majapahit mampu menyediakan bermacam-macam komoditi yang dibutuhkan, antara lain cengkeh, pala, merica, kayu cendana, gaharu, kapur barus, kapas, garam, gula, gading gajah, cula badak, dan lain-lain. Adapun barang impor untuk konsumsi di Jawa yang utama adalah sutera, kain brokat warna-warni, dan keramik.

Pedagang-pedagang asing ketika mengadakan transaksi dengan penduduk lokal menggunakan mata uang yang dibawa dari negerinya masing-masing, sehingga lambat laun mendatangkan inspirasi bagi penduduk lokal atau penguasa kerajaan di Jawa untuk membuat mata uang sendiri. Bagi kebanyakan orang, mata uang logam lokal dikenal dengan istilah uang gobog, dibuat buka hanya dari tembaga melainkan juga logam timah, kuningan, dan perunggu. Berdasarkan jenis bahan, mata uang lokal yang berkembang sejak abad IX dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu: mata uang emas, perak, tembaga, dan mata uang besi.

Satuan mata uang Jawa dari bahan emas diurutkan dari satuan yang terbesar hingga terkecil, yaitu kati (disingkat ka), suwarna (su), masa (ma), kupang (ku), dan satak (sa). Semua mata uang tersebut menunjukkan ukuran berat benda (nilai intrinsik). Mata uang gobog memiliki satuan nilai yang amat rendah dibandingkan dengan uang perak atau emas, tetapi nilainya masih lebih tinggi dari pada uang timah. Perbandingan antara uang gobog dengan uang yang beredar di Jawa lainnya antara lain: 1 gobog = 5 keteg; 1 derham perak = 400 gobog; dan 1 derham emas = 4000 gobog. Pada kedua sisi mata uang gobog terdapat relief manusia yang umumnya adalah tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan.

Mata uang logam Cina disebut pisis atau kepeng, di negeri asalnya disebut qian, yang terbuat dari campuran tembaga dan timah putih, juga unsur tambahan yaitu timah hitam, seng dan besi. Terdapat dua cara pembacaan legenda pada koin Cina, yaitu:

(1) atas – kanan-bawah-kiri atau searah jarum jam;

(2) atas-bawah-kanan-kiri.

Sementara gaya tulisan yang telah dikenali adalah:

(1) Zhuan Shu yaitu gaya tulisan melengkung;

(2) Li Shu yaitu gaya tulisan persegi;

(3) Kai Shu yaitu gaya tulisan baku;

(4) Hsing Shu yaitu gaya tulisan sambung; dan

(5) Ts ’ao Shu yaitu gaya tulisan miring.

Dari penelitian mata uang logam yang ditemukan di Trowulan sebagian besar berasal dari Song Utara (960 – 1127) dengen legenda Yuanfeng Tongbao (1078 – 1085) yang diterbitkan oleh Kaisar Shen Tsung (1067 – 1085). Selain sebagai alat pembayaran dalam jual beli barang, mata uang kepeng juga digunakan untuk membayar utang piutang, gadai tebus tanah, denda akibat pelanggaran hukum, serta digunakan sebagai benda sesaji, bekal kubur, dan amulet atau jimat.

Di dalam buku Ying-yai Sheng-lan atau ”Laporan Umum Tentang Pantai-pantai Lautan” yang diterbitkan dalam tahun 1416 oleh Ma-Huan, dikatakan bahwa orang-orang Cina yang tinggal di Majapahit berasal dari Canton, Chang-chou, dan Ch-uan-cu. Mereka kebanyakan bermukim di Tuban dan Gresik menjadi orang kaya di sana. Tetapi tidak sedikit pula penduduk pribumi yang menjadi orang kaya dan terpandang. Dalam transaksi perdagangan, penduduk pribumi menggunakan kepeng Cina dari berbagai dinasti. Artinya bahwa penduduk pribumi tidak mengerti tulisan Cina yang tertera pada kepeng itu sehingga mau menerima uang Cina dari dinasti manapun (Tang, Song, Yuan) yang mungkin sudah tidak berlaku lagi di negeri asalnya.

Kesenian

Meneruskan keunggulan sastra kakawin yang diawali di masa Kadiri (pra-Singhasari) masa Majapahit pun menghasilkan sejumlah karya unggul yang bertahan hingga melewati tradisi penyalinan naskah yang masih hidup di Bali. Di samping karya-karya kakawin unggul seperti antara lain Arjunawijaya, Kunjarakarna, Siwaratrikalpa, dan Sutasoma yang telah disebut di muka, zaman kejayaan Majapahit juga menghasilkan sebuah kakawin yang unik dari segi isi pesannya, yaitu kakawin Nagarakretagama yang isinya bukan fiksi melainkan catatan mengenai tata pemerintahan, deskripsi kehidupan sosial budaya-religi dalam masyarakat Majapahit, yang dibingkai oleh laporan perjalanan raja Hayam Wuruk berkeliling negaranya.

Dalam seni rupa pun terjadi pematangan gaya penggambaran tokoh-tokoh dalam relief candi: tidak lagi cenderung ‘naturalis’ seperti pada seni arca Jawa Tengah, melainkan tokoh-tokoh tersebut digambarkan serba pipih, menyerupai peraga wayang kulit.

Religi

Kemajuan tradisi budaya jawa hari ini memang menjadi sebuah sumber peradaban masyarakatnya. Mulai dasar budaya kerajaan sampai proses masuknya perkembangan islam semuanya membutuhkan waktu yang amat panjang. Apalagi momentum perkembangan jaman juga merubah peradaban masyarakat yang tak lain bisa kita sebut dengan masyarakat jawa modern. Namun berbagai peradaban baru tidak mungkin lepas dengan sejarah perkembanganya. Mulai latar belakang masyarakat sampai kepada pengaruh yang timbul dalam masyarakat adalah factor utama pengaruh modernisasi kebudayaan jawa. Factor yang mempengaruhi perkembangan jawa adalah keberadaan sejarah, yang taklain munculnya kerajaan Hindu-Budha, dan tentunya penyebar agam dan kerajaan islam.

Jika dipandang dalam pemetaan sejarah, jawa lahir dengan budaya primitive masyarakat. Budaya primitive ini timbul disaat masyarakat jawa berinteraksi dengan alam, kepercayaan masyarakat terbentuk mulai dari teka-teki alam. Dari alam itulah perkembangan jawa mulai berubah dengan kepercayaa-kepercayaan ritual adat. Bahkan tradisi adat inilah yang meyakinkan konsepsi budaya jawa mulai terbentuk disini. Namun nampaknya jawa memiliki pengaruh yang sangat siknifikan terhadap metabolisme perkembangannya. Masuknya pengaruh hindu-budha menjadikan pola pikir masyarakat lebih meluas dengan budaya kerajaan. Masyarakat yang tadi nya hanya merupakan sebuah perkumpulan adat menjadi lebih luas dengan berkembangnya kerajaan.

Masuknya perkembangan hindu-budha di jawa tak lain karna pola kesamaan masyarakat dengan latarbelakang pemahaman. Saat itulah jawa mulai mengenal adanya kepercayaan tertinggi (sang Hyang). Perkembangan budaya ini menyebar hingga kepelosok nusantara. Sehingga banyak berdiri kerajaan besar yang bernaung dijawa sesuai dengan latar belakang adat masing-masing. Kerajaan kanjuruhan, mataram, Kediri, sampai kepada perkembangan kerajaan singasari dan Majapahit.

Berdirinya kerajaan Hindu–Buda tersebut mempengaruhi ekonomi, politik masyarakat. Yang lebih mengandalkan bercocok tanam sebagai gambaran masyarakat yang terikat dengan budaya kerajaan. Selain itu ekonomi bercocok tanam juga merupakan kebutuhan mendasar masyarakat untuk bertahan hidup. Namun sebagian hasil wajib untuk dijadikan upeti dan persembahan kepada kerajaan dan upacara keagamaan. Ritual ini sailih berganti dengan berkembangnya, strata dalam masyarakatpun terbentuk dari sini.

Dibukanya kran pembentukan ini, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat jawa dalam mempengaruhi kebudayaan yang lain. Kerajaan dijawa menjelma menjadi kerajaan hindu-budha terbesar di area asia tenggara. Sejak saat itulah jawa menjadi budaya perkembangan kerajaan khususnya hindu-bhuda. Namun perkembangan kerajaan hindu-bhuda membuka alur perkembangan terutama dijalur perdagangan. Sampai akhirnya mulculah pedagang dan penyebar agama yang akan merubah jawa pada perkembangan yang modern.

Hindu dan Budha

Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma. Bukti- bukti peninggalan ini sangat banyak berupa sisa- sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman di Jawa Barat.

Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman di Kalimantan Timur, Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dengan rajanya Sanjaya, Kerajaan Singosari dengan rajanya Kertanegara dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, begitu juga kerajaan Watu Renggong di Bali, Kerajaan Udayana, dan masih banyak lagi peninggalan Hindu tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Raja- raja Hindu ini dengan para alim ulamanya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya, serta kesusasteraan pada masa itu. Sebagai contoh candi- candi yang bertebaran di Jawa Bali dan Lombok, Yupa- yupa di Kalimantan, maupun arca- arca dan prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara ini adalah bukti-bukti nyata sampai saat ini. Kesusasteraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha, Sutasoma (karangan Empu Tantular yang di dalamnya terdapat sloka "Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa") adalah merupakan warisan- warisan yang sangat luhur bagi umat selanjutnya. Agama adalah sangat menentukan corak kehidupan masyarakat waktu itu maupun sistem pemerintahan yang berlaku; hal ini dapat dilihat pada sekelumit perkembangan kerajaan Majapahit.

Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit menerapkan sistem keagamaan secara dominan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sewaktu meninggal, oleh pewarisnya dibuatkan pedharman atau dicandikan pada candi Sumber Jati di Blitar Selatan sebagai Bhatara Siwa dan yang kedua didharmakan atau dicandikan pada candi Antapura di daerah Mojokerto sebagai Amoga Sidhi (Budha). Raja Jayanegara sebagai Raja Majapahit kedua setelah meninggal didharmakan atau dicandikan di Sila Petak sebagai Bhatara Wisnu sedangkan di Candi Sukalila sebagai Buddha.

Maha Patih Gajah Mada adalah seorang Patih Majapahit sewaktu pemerintahan Tri Buana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk. Ia adalah seorang patih yang sangat tekun dan bijaksana dalam menegakkan dharma, sehingga hal ini sangat berpengaruh dalam pemerintahan Sri Baginda. Semenjak itu raja Gayatri memerintahkan kepada putranya Hayam Wuruk supaya benar- benar melaksanakan upacara Sradha. Adapun upacara Sradha pada waktu itu yang paling terkenal adalah mendharmakan atau mencandikan para leluhur atau raja- raja yang telah meninggal dunia (amoring Acintya). Upacara ini disebut Sradha yang dilaksanakan dengan Dharma yang harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari. Hal ini sampai sekarang di Jawa masih berjalan yang disebut dengan istilah Sradha, Sradangan yang pada akhirnya disebut Nyadran.

Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni sastra di Indonesia di mana raja-rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama terhadap dua agama yang ada yakni Siwa dan Budha, jelas merupakan pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh rakyatnya dan berjalan sangat baik. Ini jelas merupakan nilai- nilai luhur yang diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang. Nilai- nilai luhur ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun masih tetap merupakan nilai- nilai positif bagi pewaris- pewarisnya khususnya umat yang meyakini agama Hindu yang tertuang dalam ajaran agama dengan Panca Sradhanya.

Kendatipun agama Hindu sudah masuk di Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi dan berkembang dari pulau ke pulau namun pulau Bali baru mendapat perhatian mulai abad ke-8 oleh pendeta- pendeta Hindu di antaranya adalah Empu Markandeya yang berAsrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur. Beliaulah yang memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu dengan membawa pengikut sebanyak 400 orang. Ekspedisi pertama ini mengalami kegagalan.

Setelah persiapan matang ekspedisi kedua dilaksanakan dengan pengikut 2.000 orang dan akhirnya ekspedisi ini sukses dengan gemilang. Adapun hutan yang pertama dibuka adalah Taro di wilayah Payangan Gianyar dan beliau mendirikan sebuah pura tempat pemujaan di desa Taro. Pura ini diberi nama Pura Murwa yang berarti permulaan. Dari daerah ini beliau mengembangkan wilayah menuju pangkal gunung Agung di wilayah Besakih sekarang, dan menemukan mata air yang diberi nama Sindhya. Begitulah permulaan pemujaan Pura Besakih yang mula- mula disebut Pura Basuki.

Dari sini beliau menyusuri wilayah makin ke timur sampai di Gunung Sraya wilayah Kabupaten Karangasem, selanjutnya beliau mendirikan tempat suci di sebuah Gunung Lempuyang dengan nama Pura Silawanayangsari, akhirnya beliau bermukim mengadakan Pasraman di wilayah Lempuyang dan oleh pengikutnya beliau diberi gelar Bhatara Geni Jaya Sakti. Ini adalah sebagai tonggak perkembangan agama Hindu di pulau Bali.

Berdasarkan prasasti di Bukit Kintamani tahun 802 Saka (880 Masehi) dan prasasti Blanjong di desa Sanur tahun 836 Saka (914 Masehi) daerah Bali diperintah oleh raja- raja Warmadewa sebagai raja pertama bernama Kesariwarmadewa. Letak kerajaannya di daerah Pejeng dan ibukotanya bernama Singamandawa. Raja- raja berikutnya kurang terkenal, baru setelah raja keenam yang bernama Dharma Udayana dengan permaisurinya Mahendradata dari Jawa Timur dan didampingi oleh Pendeta Kerajaan Empu Kuturan yang juga menjabat sebagai Mahapatih maka kerajaan ini sangat terkenal, baik dalam hubungan politik, pemerintahan, agama, kebudayaan, sastra, dan irigasi semua dibangun. Mulai saat inilah dibangun Pura Kahyangan Tiga (Desa, Dalem, Puseh), Sad Kahyangan yaitu Pura Lempuyang, Besakih, Bukit Pangelengan, Uluwatu, Batukaru, Gua Lawah, Sistem irigasi yang terkenal dengan Subak, sistem kemasyarakatan, Sanggar/ Merajan, Kamulan/Kawitan dikembangkan dengan sangat baik.

Sosial

Bahasa

Jawa Kuno, Sansekerta Tulisan

Huruf Pallawa, iaitu sistem tulisan dari pada Sanskrit (Pali)

Organisasi masyarakat.

Negara bawahan maupun daerah, mengambil pola pemerintahan pusat, Raja dan Juru pangalasan adalah pembesar yang bertanggung jawab, namun pemerintahannya dikuasakan kepada patih, sama dengan pemerintah pusat. Di mana raja Majapahit adalah orang yang bertanggung jawab, tetapi pemerintahannya ad di tangan patih amangkubumi atau patih seluruh Negara. Itulah sebabnya menururt Nagarakertagama pupuh X para patih, jika datang ke majapahit, mengunjungi gedung kepatihan amangkubumi, yang dipimpin oleh Gajah Mada. Administrasi pemerintahan majapahit di kuasakan kepada lima pembesar yang disebut sang panca ri wilwatikta yakni: patih seluruh Negara, demung, kenuruhan, rangga dan tumenggung. Mereka itulah yang banyak dikunjungi oleh para pembesar Negara bawahan dan daerah untuk urusan pemerintahan. Apa yang direncanakan di pusat, dilaksanakan di daerah oleh pembesar tersebut.

Dari patih perintah turun ke wadana, semacam pembesar distrik; dari wedana turun ke akuwu, pembesar sekelompok desa (semacam lurah sekarang) dari akuwu turun ke buyut, pembesar desa, dari buyut turun kepada penghuni desa. Demikianlah tingkat organisasi pemerintahan di majapahit dari pucuk pimpinan Negara sampai rakyat pedesaan. Apa yang berlaku di jawa di terapkan di pulau bali dengan patuh.

Tatamasyarakat pada masa kerajaan Majapahit berdasarkan Hinduisme atau memiliki ciri khusus dalam penerapan konsep Hinduisme yaitu membagi masyarakat dalam emapat golongan yang disebut warna; Brahmana, Kesatria Waisa dan Sudra. Selanjutnya tatamasyarakat Majapahit disebut dalam Negarakertagama LXXXI seperti di bawah ini:

1. Besarlah minat baginda untuk tegaknya tripaksa. Tentang piagam beliau besikap agar tetap di indahkan. Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya laku utama, tatasila dan adat-tutur diperhatikan.

2. Itulah sebabnya Sang Catur Dwija mengejar laku utama. Resi, Wipra, Pendeta siwa Budha teguh mengindahkan tutur. Catur Asrama trutama catur basma tunduk rungkup tekun. Melakukan tapa berate, rajin mempelajari upacara.

3. Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran. Para menteri dan aria pandai membina urusan Negara. Para putri dan satria berlaku sopan, berhati teguh. Waisa dan Sudra dengan gembira menepati tugas darmanya.

4. Empat kasta yang lahir sesuai dengan keinginan yang Maha Hiyang Tinggi. Konon tunduk rungkup kepada kuasa dan perintah baginda. Teguh tingkat tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah. Candala, Meleca dan Tuca mencoba mencabut cacad-cacadnya.

Konsep tatamasyarakat yang digambarkan dalam pupuh LXXXI sesuai dengan ajaeran kitab undang-undang Manawa yang berbunyi:

“demi kebaikan dunia Brahman melahirkan golongan Brahmana dari mulutnya, golongan Kesatria dari lengannya, golongan Waisa dari pahanya dan golongan Sudra dari kakinya. Untuk melindungi dunia ini Brahman yang cemerlang menetapkan bidang-bidang kerja mereka itu masing-masing.”

Setiap golongan diwajibkan untuk teguh mematuhi undang-undang Manawa. Menurut Selamet Mulyono penentuan bidang kerja itu tidak bisa di tawar lagi. Barang siapa menyalahinya, ia akan kehilangan kastanya. Amaran kitab undang-undang Manawa itu bunyinya sebagai berikut:

“Lebih baik menjalankan bidang kerja dalam bidang kewajiban yang telah ditentukan menurut kastanya kurang sempurna, dari pada mengerjakan dengan sempurna kasta lain, karna barang siapa menjalankan kewajiban kasta lain maka ia akan dikeluarkan dari kastanya sendiri.”

Kemudia Selamet Mulyono menjelaskan mengenai kewajiban kasta-kasta tersebut dan bagaimana penerapannya diantaranya sebagai berikut.

a) Pendeta

Negarakertagama LXXXI telah menjelaskan bahwa para pendeta di Majapahit sanagat teguh mematuhi peraturan-peraturan yang telah diterapkan. Kaum pendeta yang ingin mencapai kesempurnaan hidup dan akhirnya bersatu padu dengan Brahman, harus menjalankan enam Dharma seperti berikut: mengajar, belajar, melakukan persajian untuk dirinya sendiri, melakukan persajian untuk orang lain, membagi dan menerima Dharma.

Dalam bidang keagamaan para pendeta memiliki kewenangan sepenuhnya dan menjadi pemimpin masyarakat. Sebagian besar dari upacara ayang dianggap pentingdalam kehidupan masyarakat sepenuhnya hanya boleh dilakukan oleh para pendeta. Kaum awam hanya datang untuk menghadirinya dan memberikan sumbangan berupa kemenyan, bunga dan makanan saja upacara-upacara tersebut diantaranya penyucian air (Thirta), penyucian tanah untuk mendirikan candi dan tempat pemujaan, upacara kelahiran, inisiasi dan kematian (Sradha), menghilangkan pengaruh lelembut dan mengusir roh halus yang bersipat jahat, melakukan pesajian dan menyajikan pujaan, dll. Cotoh upacara penyucian dan pemberkahan tanah untuk mendirikan candi, diuraikan dalam Negarakertagama LXIX, LXX dan beberapa piagam lainnya. Tugas–tugas pendeta dalam bidang agama memiliki kecendrungan untuk memonopoli pengaruh mereka dalam tata kehidupan masyarakat. Selain itu para endeta sering diserahi tuga dalam bidang pemerintahan. Banyak diantara mereka yang menjadi petugas pengadilan baik di pusat maupun di daerah hlal ini didasarkan tas kehidupan masyarakat yang berorientasi pada agama.

b) b. Ksatria

Golongan ini mencakup para petugas pemerintahan, biasa disebut sebagai pejabat pemerintah tugas utama kaum ksatria ialah melindungi Negara, digariskan didalam kitab undang-undang Manawa seperti berikut:

“kaum Ksatria, yang telah dilantik sesuai dnegan peraturan Weda, mempunyai kewajiban untuk melindungi dunia (Negara). Sebabanya ialah, ketika umat manusia itu tanpa Raja, hidup dalam ketakutan buyar bercerai berai, maka Brahman menciptakan Raja yang diberi tugas untuk melindungi umat manusia. Oleh karena itu Raja, meski muda dan tidak sembarangan orang melainkan pengejawantahan dewata muda. Untuk membantu dalam memnunaikan tugasnya, Brahman memuja kemegahannya, yang menitis jadi Undang-undang………”.

c) c. Waisya

Golongan Waisya digariskan untuk menggeluti bidang perdagangan, petani, peternak sehingga mereka sering dirumuskan menjadi kaum pedagang dan petani. Uraiannya dalam undang-undang Manawa seperti berikut:

“Anggota golongan waisya dilarang berpikiran, bahwa ia tidak suka memelihara ternak. Jika piara ternak itu dilakukan oleh golongan waisya, golongan lain dilarang ikut mengerjakannya. Anggota waisya harus mempunyai pengetahuan baik tentang mutu-matikam, mutiara, merjan logam, bahan tenun, minyak wangi dan bahan ramuan, harus tahu akan cara menabur menanam benih, membedakan lading cubur dan cengkar, menggunakan timbangan, apalgi tentang baik buruknya barang-barang dagangan, pemeliharaan Negara yang mnungkin menguntungkan untuk pasaran, perhitungan untung rugi, dan sarana-sarana bagai piara ternak, pembayaran upah yang layak kepada bureuhnya, memiliki pengetahuan pelbagai bahasa, cara menyimpan barang dan peraturan jual beli.”

d) d. Sudra

Berbeda dengan golongan –golongan lainnya kaum sudra hanya mengalami kelahiran sekali saja. Bidang kewajiban dan kerjanya menurut kitab undang-undang Manawa ialah mengabdi, terutama kepada kaum Brahmana karena, barang siapa mengabdi kepada kaum Brahmana ia akan mencapai tujuannya baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan pengabdian kepada golongan Ksatria dan Waisa hanya memberikan manpaat bagi kehidupan di dunia saja.

Di Majapahit lapisan masyarakat terbawah menurut Perundang-undang Majapahit disebut Kaula: hamba. Menurut kitam Kutara Manawa ada emapat macam hamba, yakni:

1. Grehaja. Mereka menjadi hamba karena kelahiran. Dijelaskan bahwa barang siapa lahir dalam masa penghambaan, dengan sendirinya adalah hamba.

2. Dwajaherta. Mereka itu menjadi hamba akibat penawanan dalam perang (tawanan perang).

3. Bhaktadasa. Menjadi hamba untuk memperoleh makan.

4. Dandadasa. Menjadi hamba karena tidak mampu membayar denda.

Keempat golongan di atas (hamba/taura) tinggal dirumah tuanya dan wajib menjalankan segala perintahnya. Keempat golongan hamba tersebutdapat memperoleh kebebasan dengan tebusan uang dengan tidak memandang siapa yang membayarnya, dengan persetujuan tuannya. Seorang bhaktadasa harus membayar utang makan sebanyak nilai makan yang dimakan selama ia tidak mampu berkerja. Utang makan itu dihitung, seperempat tahil setahunnya, dinilai seribu enam ratus, sedangkan seorang dandadasa harus melunasi uang denda yang belum dibayarnya. Tebusan grehaja ditetapkan oleh tuannya.

e) e. Candela, Maleccha dan Tuccha.

Tiga golongan terbawah dalam masyarakat yang tidak termasuk warna yang dusebutkan dalam negarakertagama LXXXI/4 ialah: candela, mleccha dan tuccha. Ketiga golongan tersebut disebut sebagai golongan yang diharamkan dalam masyarakat dan golongan tersebut dalam undang-undang Manawa mereka itu termasuk dashyu. Menurut undang-undang anak yang lahir dari perkawinan campuran, mempunyai setatus lebih rendah dari ayahnya demikian juga jika anak tersebut lahir dari perkawinan campuran antara laki-laki yang berkasta Sudera dengan wanita dari ketiga golongan diatasnya, setatusnya adalah lebih rendah dari para sudra. Merekalah yang disebut golongan candela. Golongan meleccha pada jaman Majapahit ialah pedagang-pedagang asing yang tinggal di kota-kota pelabuhan seperti disebut dalam Negarakertagama LXXXIII/3.

Selanjutnya ialah tuccha dalam bahasa sansekerta tuccha berarti kosong Selamet Mulyono menapsirkan golongan ketiga ini mencakup orang-orang haram yang dianggap sepia tau tidak berguna bahkan merugikan masyarakat. Dengan katalain penjahat atau dalam undang-unadang katara Munawa disebut golongan tatayi; perbuatan seperti membakar rumah orang, meracun sesame, menenung, mengamuk, mempitnah, dan meruksak kehormatan wanita dal dalam undang-undang yang berlaku di kerajaan Majapahit semua orang yang terbukti melakukan tatayi meskipun dia dari kasta tertingi akan dikenakan pidana mati.

Pakaian

Sikap figuran digambarkan dalam posisi berdiri, duduk dan jongkok dengan berbagai gaya, baik pada laki-laki, perempuan maupun pada anak-anak. Figuran laki-laki tampak lebih bervariasi dan dinamis, digambarkan secara lebih bebas. Sikap duduknya bias seperti “nongkrong”, kedua kaki terlipat, paha menempel di dada serta lutut menghadap ke atas. Ada pula figuran yang salah satu kakinya bersila, sedang kaki lainnya dilipat ke atas.

Beberapa sikap figuran laki-laki yang digambarkan duduk bersila dengan posisi tenang seperti sedang beryoga. Sikap figuran laki-laki berbeda dengan figuran wanita yang dalam gayanya tampak lebih santun. Sikap duduk sosok perempuan pada umumnya digambarkan dengan dua gaya, yaitu;

(1). Duduk dengan posisi seluruh badan bertumpu pada bagian kaki yang dilipat,

(2). Duduk bersila dengan badan tegak dan tangan ke bawah.

Ekspresi Wajah

Para pengrajin tampaknya mempunyai keahlian dalam membuat bentuk-bentuk dan ekspresi wajah, terutama wajah anak-anak, putri serta orang tua. Penggarapan yang rinci menjadikan figuran yang dibuat bersifat ekspresif, misalnya wajah yang sedang tertawa dengan mulut terbuka lebar.

Demikian pula pembentukan wajah anak-anak, digambarkan dengan matanya yang kecil, hidung dan mulut yang mungil, pipi tembam dan kepala membulat. Untuk mempertegas ditambahkan atribut-atribut berupa bentuk dandanan rambut yang dikuncir, atau membentuk “kuncung” yang memang merupakan dandanan rambut anak-anak

Cara Berpakaian dan Pemakaian Hiasan

Sebagian besar cara berpakaian figuran perempuan berkain panjang, dililitkan pada tubuh mulai dari dada bagian atas hingga mata kaki, yang kita kenal sebagai “kemben”. Cara berpakaian semacam ini mungkin yang paling umum dikenakan para wanita Majapahit pada masa itu yang hingga kini dipakai oleh wanita-wanita yang tinggal di wilayah pedesaan, baik di Jawa, Bali maupun di wilayah Indonesia lainnya. Cara berpakain dengan bentuk kemben dapat kita lihat pula pada kostum penari di Surakarta dan Yogjakarta disebut “dodot”.

Figuran Orang Asing

• Orang Cina

Penggambarannya ditandai dengan beberapa ciri antara lain; bermata sipit dan rambutnya lurus disisir ke belakang. Penggambaran anak-anak dilakukan melalui gaya rambut ekor kuda atau dikuncir (jumlahnya satu atau lebih), di bagian atas atau kedua sisi kepala. Pada orang Cina dewasa matanya selalu digambarkan sipit dengan topi bulat yang banyak dikenakan pedagang Cina pada masa itu. Laki-laki dewasa pakaiannya berbentuk jubah panjang yang menutupi seluruh tubuh dengan kancing terletak tepat di bagian tengah depan, ditandai oleh suatu garis lurus vertikal atau polos serta bagian perut yang cenderung buncit tertutup oleh jubah panjangnya. Figuran orang Cina dewasa kemungkinan besar menggambarkan wujud para pedagang Cina. Menurut sejarah, para pedagang Cina telah menetap di beberapa wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit seperti di Tuban dan Gresik. Mereka juga beranak pinang di wilayah itu

• Orang Gujarat

Gambaran orang Gujarat atau Persia dapat diketahui dari beberapa kepala figuran yang bagian badannya telah hilang. Ciri utamanya tampak di bagian mata, hidung, mulut, dan ekspresinya. Matanya besar dan agak lebar, hidung mancung dan besar dengan cuping agak bulat, bibir agak tebal, dan memakai tutup kepala berbentuk kopiah atau sorban

• Orang Eropa

Secara kuantitas figuran yang menggambarkan sosok orang Eropa tidaklah banyak. Figur orang Eropa yang diasumsikan sebagai orang Portugis dapat diketahui berdasarkan bentuk pakaian yang dikenakan.

Teknik Pembuatan

Hampir seluruh kepala figuran yang ditemukan memperlihatkan cara pembuatan dengan teknik cetak. Penggarapan permukaan luar figuran dikerjakan dengan teknik gosok atau poles sehingga permukaannya menjadi halus. Kemudian dengan teknik pahat atau gores dibuatlah mata, hidung atau mulut yang lebih jelas lalu ditambahkan bagian-bagian khusus untuk lebih memperjelas bentuk wajah. Bagian tubuh dibentuk dengaan dua macam teknik yaitu teknik cetakan (mould) dan teknik pembentukan dengan tangan (hand-modelled).

Teknik hias dilakukan antara lain dengan teknik tekan (impressed), teknik pilin dan teknik ukir (engraved). Pembuatan arca dengan teknik cetak biasanya dilakukan jika pengrajin bermaksud membuat arca yang bentuknya sama dalam jumlah banyak. Dalam teknik cetak dikenal dua macam teknik yaitu; teknik tuang (casting) dengan cara menuangkan bubur tanah liat, dan teknik tekan (impressed) dengan adonan tanah liat.

Aksesoris

Di masa lalu perhiasan tidak sekadar dipakai sebagai asesoris untuk menghiasai badan agar penampilan kelihatan cantik dan menarik tapi juga difungsikan sebagai pelengkap sebuah upacara. Penggunaannya sebagai sarana upacara dapat kita temukan dalam prasasti Jawa Kuna, antara lain disebutkan bahwa dalam upacara penetapan sima (desa perdikan) ada rangkaian pemberian hadiah (pasek-pasek) kepada para pejabat berupa kain (wdihan), cincin, serta uang mas dan perak. Kitab Sumanasantaka (sekitar abad XII) menyebutkan hadiah yang diberikan itu (misalnya gelang, kalung, cincin) diperuntukan bagi mereka yang menguasai tingkat kepandaian dalam bidang seni musik, tari, dan satra.

Jenis perhiasan dari masa klasik kebanyakan berupa mahkota, jamang, tusuk konde, hiasan telinga, kalung, bandul, selempang dada, gelang lengan (Jawa kelat bahu), gelang, cincin, dan jempang (penutup kelamin anak perempuan). Jenis perhiasan yang ditemukan pada arca batu dan perunggu tidak seluruhnya dari logam, seperti ikat pinggang dan ikat pinggul yang dibuat dari kulit atau kain tebal tetapi dilengkapi gesper emas (Jawa, timang) yang kadang-kadang dihiasi batu mulia. Selain itu ada hiasan uncal, yaitu semacam sabuk kecil yang tergantung di depan kedua paha, mulai dari ikat pinggul menggantung ke bawah, pada bagian ujungnya dihiasi jumbai dari logam. Pada arca-arca masa Majapahit hiasan uncal panjangnya sampai betis, hampir hingga ke mata kaki, sedangkan pada arca dari masa Jawa Tengah dan Jawa Timur awal, panjangnya hanya sampai ke lutut atau sedikit di bawah lutut.

Di Trowulan banyak ditemukan perhiasan emas tetapi hanya sedikit yang sampai ke tangan pemerintah. Sejak tahun 1950 hingga 1960-an banyak penggali liar mencari emas (ngendang) di situs ini yang kemudian diam-diam mereka jual. Sekarang kegiatan ngendang tidak ada lagi, tetapi berganti dengan kegiatan desktruktif juga, yaitu menggali tanah untuk dijadikan bahan pembuatan bata. Pada tahun 1991 pengrajin bata di Desa Nglinguk menemukan 9 buah perhiasan emas (2 gelang, 2 rantai kalung –satu diantaranya dengan liontin—dan masing-masing 1 buah cepuk dan penutupnya, wadah dan fragmen rantai. Temuan ini termasuk yang bermutu tinggi. Sebelum itu (1976) pernah ditemukan kowi (wadah pelebur logam) berukuran kecil (diameter 5 cm). Temuan ini mengingatkan kita akan kegiatan pengrajin emas di masa lalu, tempat mana kini dibadikan sebagai nama sebuah desa, Desa Kemasan , di sebelah barat Segaran.

Dalam NBG yang terbit di tahun 1881 disebutkan bahwa di Dusun Bedok, Sooko ditemukan 10 buah benda emas di dalam cepuk perunggu yang terdiri dari anting-anting, gelang lengan, fragmen liontin, dan hiasan hulu pedang. Temuan tersebut kini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta.

Di antara perhiasan tersebut terdapat satu tipe hiasan “kepala raksasa” dengan mulut terbuka yang di dalamnya terdapat sebuah batu berwarna hijau. Sebuah benda emas, berbentuk bulat dengan relief kerawang pada kedua permukaannya, dalam beberapa sumber disebut sebagai hiasan telinga. Tetapi pendapat ini masih diragukan karena salah satu permukaan benda tersebut dapat dilepas, jadi dapat berfungsi sebagai penutup. Mungkin benda itu merupakan wadah tertutup untuk menempatkan wewangian. Relief pada salah satu permukaan menggambarkan pola sulur dan sangkha bersayap di bagian tengahnya. Permukaan yang lain berpola kelopak bunga padma. Sangkha bersayap tampaknya merupakan motif hias yang populer sejak masa Jawa Tengah dan tidak selalu terkait dengan dewa Wisnu, meskipun Sangkha adalah satu atribut dewa Wisnu. Ada pula benda yang reliefnya tidak jelas, mungkin digantungkan sebagai penghias yang biasa dipasang didada atau pada rambut. Museum Nasional Jakarta menyimpan dua hiasan berelief ini yang sangat menarik yaitu koleksi No. 6816 dan 6914. Koleksi No. 6816 mempunyai relief yang menggambarkan dewa Surya menaiki kuda, dikelilingi lingkaran yang mengeluarkan sinar dalam bentuk segitiga yang runcing ujungnya. Motif lingkaran bersinar ini biasanya disebut “sinar Majapahit”, dan umum dijumpai pada arca maupun relief candi abad XIV-XV. Koleksi No. 6914 juga merupakan hiasan serupa, mempunyai relief yang menggambarkan salah satu adegan dalam cerita Ramayana. Gambar itu melukiskan dua ekor kera berjalan di air dengan junjungan batu karang di atas kepalanya.

Dari Mojoagung di sebelah barat Trowulan, didapatkan dua buah kalung berbentuk kawat atau tali polos. Salah satu kalung berbentuk bulat penuh dan yang lainnya pipih. Kalung ini dikenakan ketat di leher. Meskipun polos, tanpa hiasan apapun, bentuk kalung dari abad XIV ini dapat diasumsikan sebagai hasil seni post modern. Kalung yang lain, juga tidak berbentuk rantai, melainkan berupa pilinan kawat yang karena itu disebut sebagai kalung untiran (Jawa: untir = pilin). Kalung ini juga dikenakan ketat di leher dan di bagian tengah terdapat pasak yang dapat dibuka.

Teknik Pembuatan

Teknik yang secara umum digunakan untuk pembuatan benda-benda emas adalah cor (penuangan logam cair) dan penempaan (menempa lembaran tipis dengan palu/kayu). Sesudah itu baru dilakukan penyempurnaan dengan poles dan sebagainya. Salah satu variasi dari penempatan adalah repousse, yaitu menempelkan lembaran emas pada batu atau logam lain yang sudah bermotif, kemudian dipukul-pukul sehingga terbentuk relief yang cembung pada lembaran tersebut. Beberapa di antara benda emas merupakan benda yang berongga, dibuat dari lembaran emas tipis.Untuk memperkuat lembaran emas tadi di bagian dalam diperkuat dengan perunggu (pada bagian yang tak kelihatan) dan lubang. Antara emas dan perunggu diisi dengan tanah liat halus yang tidak dibakar.

Alam dan lingkungan

Jejak penataan lingkungan di masa Majapahit terdapat pada bekas-bekas kanal, kolam buatan, dan tembok kota. Perhatian pemerintahaan pada manajemen air itu pada awalnya sudah dimulai pada masa-masa yang membangun bendungan-bendungan, dan masa Kadiri ketika pertama dibuat jabatan senapati sarwajala (= pimpinan korps penata perairan).

Sumber daya alam

Jawa merupakan pulau yang memiliki sederetan gunung berapi yang berjajar dari timur sampai kebarat. keberadaan gunung dan bukit tinggi juga turut memisahkan daerah terpencil menjadi pusat yang cocok bagi persawahan. Daerah-daerah padi tersebut merupakan salahsatu terkaya diseluruh dunia. Selain itu ada jalur penghubung utama yaitu keberadaan sungai-sungai yang sebagian besar relative pendek. Hanya ada dua sungai yang paling cocok untuk hubungan jarak jauh yaitu sungai berantas dan bengawan solo. Sehingga tidak jarang dari lembah-lembah tersebut menjadi pusat kerajaan-kerajaan bersar pada pertengahan abad XVII, atau mungkin sebelumnya.

Selain aliran sungai, juga terdapat jalur darat dengan pos cukai dan jembatan-jembatan permanen. Namun jalan darat tersebut hanya cocok dilalui pada saat musim kering (kemarau) pada sekitar bulan Maret-September, selain itu jalan darat besar bisa juga dilalui kendaraan berat. Akan tetapi jalan darat dapat menghambat dan lebih berbahaya disbanding aliran sungai. Para perampok atau penguasa local dapat menghambat perjalanan. Sedangkan pada musim penghujan mungkin jalan darat tidak dapat dilalui karena membutuhkan peralatan berat untuk perawatanya. Dengan demikian pulau jawa pada abad permulaan terdiri dari lingkup penduduk yang relative terpisah satu sama lain. Populasi pada abad pertengahan pun tidak diketahui. Sehingga prediksi banyak daerah yang tidak berpenduduk sangat jarang. Setiap kerajaan di jawa memerluakan kekuasaan pusat atas daerah yang terpencil, dengan perkecualian kerajaan Majapahit. Karna kerajaan dijawa kebanyakan kerajaan pedalaman. Karena sulitnya penghubungan tersebut, perdagangan luar negri bukan kegiatan utama kerajaan tersebut.

Jawa disebut masyarakat “hidrolis” yang didasar pada pertanian dan sawah. Bahkan pada abad ke XIX jawa merupakan penghasil beras terbesar di Asia Tenggara. Namun tetap komuditi masyarakat jawa merupakan dari wilayah yang berbeda, dan masing-masing wilayah memilikihasil komuditi yang brbeda pula. Seperti:

Sunda (jawa barat): lada, pinang, asam jawa, bunga-bunga, dan rempah-rempah tumbuhan. Jawa tengah: beras, bahan pangan (ubi jalar, jagung,dll), lada, asam jawa, madu, kayu cedana dll.Jawa timur : beras, madu, kapas, bahan pangan, sayur, ikan, kayu dll. Komuditi masyarakat jawa memang beraneka ragam,hal tersebut merupakan pengaruh area lahan yang sangat luas untuk pemanfaatan sumberdaya alam.

Udara di Jawa panas sepanjang tahun. Panen padi terjadi dua kali dalam setahun, butir berasnya amat halus. Terdapat pula wijen putih, kacang hijau, rempah-rempah dan lain-lain, kecualai gandum. Buah-buahan banyak jenisnya, antara lain pisang, kelapa, delima, pepaya, durian, manggis, langsat dan semangka. Sayur mayur berlimpah macamnya, kecuali kucai. Jenis binatang juga banyak, antara lain burung beo, ayam mutiara (kalkun), burung nilam, merak, pipit, kelelawar dan hewan ternak seperti sapi, kambing, kuda, babi, ayam dan bebek, serta hewan langka monyet putih dan rusa putih.



DAFTAR PUSTAKA

Brandes, 1896. PararMeinsma. 1903. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. S’Gravenhage.

Moedjanto, 1994. Konsep Kekuasaan Jawa, Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.

Pigeaud, 1924. De Tantu Panggelaran Uitgegeven, Vertaald en Toegelicht. Disertasi Leiden.

Poerbatjaraka, 1964. Kapustakan Jawi, Jakarta : Djambatan.

Prijana, 1938. Sri Tanjung, een dud Javaansch Verhaal. Disertasi Leiden.

Priyohutomo, 1934. Nawaruci. Groningen: JB. Wolters Uitgevers Maatschapij.

Ricklefs, 1995. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan Dharmono Hardjowidjono.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Slamet Mulyono, 1979. Negara Kertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhatara.

Suyamto, 1992. Refleksi Budaya Jawa dalam Pemerintahan dan Pembangunan. Semarang: Dahana Prize.

Toru Aoyama, 1991, Kitab Sutasoma. Canberra : Australisan National University.

Zoetmulder, 1985. Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Jakarta: Djam-batan.

Beberapa artikel dari internet



 
   
Facebook 'Like' Button  
   
Advertisement  
   
 
 

World News


Find out all you need to know ...

Read all about the news.


Radio Japan Online(NHK)
Online World TV


National Geographic
Washington Post
The Times on Line
The Jakarta Post
New York Times
New York Times Video
BBC
Business week
News Week
The Economist
Bloomberg





Info IT



Pengin nambah wawasan dibidang IT...

Read also these articels on magazines


tabloid PCplus
Info komputer
Chip



Search Engine Submission - AddMe
 
 
 

News on Paper

Just find out all you need ...

Read these articels on magazines.


Local News

RCTI
Kedaulatan Rakyat
Koran-Jakarta
Kontan
Kompas
liputan6
kompas-tv
femina-online
gadis-online
ayahbunda
hai-online
majalah tempo
koran tempo



 
Flight Schedule  
 

Yogyakarta Flight Schedule

flight schedule

Currency

currency converter

Translate English to...







 
Today, there have been 6 visitors (6 hits) on this page!
=> Do you also want a homepage for free? Then click here! <=